Tulang Rusuk
tulang rusukmu terlepas
dan menjelma perempuan
kau pun memberi nama
: hawa
perempuan itu kemudian memberimu buah
: makanlah
dunia pun tertelan oleh bahasa kitab
membentangkan silsilah panjang
lelaki dan perempuan adalah satu bayangan
hadir dan lenyap dalam kebersamaan
LA, 2013
Sumber: Lampung Post (Minggu, 13 April 2014)
Analisis Puisi:
Puisi “Tulang Rusuk” karya Remmy Novaris DM merupakan puisi yang menggunakan kisah penciptaan manusia, khususnya sosok Hawa, sebagai titik berangkat untuk membicarakan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dengan bahasa yang ringkas dan simbolis, puisi ini menghubungkan tubuh, nama, buah, kitab, silsilah, hingga gagasan tentang kesatuan manusia.
Puisi ini memiliki ruang tafsir yang cukup luas. Kisah tentang tulang rusuk tidak semata-mata menjadi cerita penciptaan perempuan, tetapi berkembang menjadi renungan mengenai asal-usul, hubungan, ketergantungan, kesetaraan, dan kebersamaan laki-laki serta perempuan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah hubungan laki-laki dan perempuan sebagai dua unsur yang berasal dari satu kesatuan. Tema tersebut terlihat sejak awal:
“tulang rusukmu terlepas
dan menjelma perempuan”
Tulang rusuk menjadi simbol asal-usul perempuan sekaligus simbol keterhubungan antara laki-laki dan perempuan. Tema tersebut kemudian dipertegas pada bagian akhir:
“lelaki dan perempuan adalah satu bayanganhadir dan lenyap dalam kebersamaan”
Kalimat ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan dipandang sebagai dua sosok yang berbeda, tetapi memiliki hubungan yang sangat erat. Keduanya hadir dalam suatu kebersamaan dan menjadi bagian dari perjalanan kehidupan manusia.
Selain tema hubungan laki-laki dan perempuan, puisi juga mengandung tema religius karena menggunakan sosok Hawa, buah, dan “bahasa kitab” sebagai unsur penting dalam pembangunannya.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini berkaitan dengan gagasan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hubungan yang fundamental dan tidak dapat dipisahkan dalam perjalanan kehidupan manusia.
“Tulang rusuk” dapat dibaca sebagai simbol sesuatu yang berasal dari bagian tubuh yang sama. Ketika tulang rusuk “menjelma perempuan”, perempuan tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang sepenuhnya asing, tetapi sebagai bagian dari suatu kesatuan.
Nama:
“: hawa”
menunjukkan bahwa penyair memanfaatkan simbol religius untuk membangun gagasan tentang asal-usul manusia.
Sementara itu, buah dapat dimaknai sebagai simbol pilihan, pengetahuan, konsekuensi, dan awal perjalanan manusia. Setelah buah hadir, dunia berkembang menjadi:
“silsilah panjang”
Artinya, dari kisah manusia pertama lahirlah perjalanan panjang kehidupan manusia, dengan berbagai hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Makna paling penting terdapat pada:
“lelaki dan perempuan adalah satu bayangan”
“Bayangan” dapat dimaknai sebagai sesuatu yang selalu berkaitan dengan sumbernya. Dalam konteks puisi, ungkapan tersebut menyiratkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki keterhubungan yang tidak terpisahkan.
Baris terakhir:
“hadir dan lenyap dalam kebersamaan”
juga dapat ditafsirkan sebagai gambaran siklus kehidupan. Manusia datang dan pergi, lahir dan meninggal, tetapi kehidupan terus berlangsung melalui hubungan antarmanusia dan generasi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hubungan yang erat dalam kehidupan dan hendaknya dipahami sebagai bagian dari satu kesatuan kemanusiaan.
Puisi tidak hanya berbicara tentang siapa yang berasal dari siapa, tetapi mengarah kepada hubungan timbal balik. Laki-laki dan perempuan bersama-sama membentuk perjalanan panjang kehidupan manusia.
Pesan lainnya adalah bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan asal-usulnya. Dari kisah manusia pertama berkembang:
“silsilah panjang”
yang menunjukkan keberlanjutan generasi.
Puisi juga dapat dibaca sebagai pengingat bahwa kehidupan bersifat sementara:
“hadir dan lenyap”