Puisi: Usia (Karya Gus tf)

Puisi “Usia” karya Gus tf mengingatkan bahwa masa lalu dapat memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kehidupan seseorang. Kenangan dapat ...
Usia

maka tertahan aku: di bandul jam. Semua getar
melamban jadi gema. "Siapa
yang memecah kulit, keluar dari cangkangnya?"

dan kulihat engkau, tapi tak ada. Seperti bunga
dipindahkan: dari tangkai ke jambangan. Bagaimana
mungkin, kehilangan datang menaklukkan keberadaan?

dan aku meronta, mengerang dari dada. Secabik serat
melenguh: mengiris ruang dalam diriku. O, bagaimana
mungkin, masa depan menyurut, mengekal masa lalu?

maka tertahan aku: di bandul jam. Semua getar
melamban jadi gema. "Siapa
yang mengupas kulit, kelucas dari keriputnya?"

Payakumbuh, 1996

Sumber: Daging Akar (Penerbit Buku Kompas, 2005)

Analisis Puisi:

Puisi “Usia” karya Gus tf merupakan puisi reflektif yang membicarakan waktu, kehilangan, penuaan, keberadaan, serta hubungan antara masa lalu dan masa depan. Usia tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya umur, tetapi juga dengan pengalaman manusia dalam menghadapi perubahan, kehilangan, kenangan, dan kesadaran bahwa waktu terus bergerak.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan waktu dan pengalaman manusia dalam menghadapi kehilangan serta perubahan akibat bertambahnya usia.

Tema tersebut terlihat sejak larik:

“maka tertahan aku: di bandul jam.”

Bandul jam merupakan simbol waktu yang terus bergerak. Namun, penyair justru merasa “tertahan”. Hal ini menunjukkan adanya pengalaman subjektif terhadap waktu: secara fisik waktu berjalan, tetapi secara batin seseorang dapat merasa terjebak pada suatu kenangan atau kehilangan.

Tema kehilangan terlihat melalui pertanyaan:

“Bagaimana mungkin, kehilangan datang menaklukkan keberadaan?”

Pertanyaan tersebut memperlihatkan kegelisahan penyair ketika menghadapi sesuatu atau seseorang yang dahulu ada, tetapi kemudian tidak lagi hadir.

Tema usia juga berkaitan erat dengan penuaan. Hal ini semakin jelas pada bagian akhir:

“Siapa yang mengupas kulit, kelucas dari keriputnya?”

“Keriput” menjadi tanda fisik perjalanan usia dan perubahan tubuh manusia.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa usia membuat manusia semakin sadar terhadap keterbatasan waktu, kehilangan, perubahan diri, dan ketidakmungkinan mengembalikan masa lalu.

“Bandul jam” dapat ditafsirkan sebagai simbol perjalanan usia. Setiap gerakan bandul merupakan bagian dari waktu yang terus berlalu.

Namun, bagi seseorang yang sedang mengalami kehilangan atau mengenang masa lalu, waktu dapat terasa berbeda. Masa lalu justru terasa lebih nyata daripada masa depan.

Hal tersebut tercermin dalam:

“masa depan menyurut, mengekal masa lalu”

Secara logika, masa depan seharusnya berada di depan dan masa lalu berada di belakang. Namun, secara psikologis, kenangan dapat menjadi begitu kuat sehingga masa lalu terasa lebih hidup daripada masa depan.

Makna tersirat lainnya adalah bahwa keberadaan manusia selalu berhadapan dengan kehilangan. Sesuatu yang ada hari ini dapat berubah atau hilang seiring perjalanan waktu.

Pertanyaan:

“Bagaimana mungkin, kehilangan datang menaklukkan keberadaan?”

menunjukkan paradoks tersebut. Sesuatu yang sebelumnya nyata dan hadir ternyata dapat dikalahkan oleh waktu dan kehilangan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa manusia perlu menyadari bahwa waktu terus berjalan dan usia membawa perubahan yang tidak dapat dihindari.

Kehilangan merupakan bagian dari perjalanan hidup. Seseorang tidak dapat mempertahankan segala sesuatu dalam keadaan yang sama selamanya.

Puisi juga mengingatkan bahwa masa lalu dapat memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kehidupan seseorang. Kenangan dapat membuat manusia seolah-olah hidup kembali di dalam waktu yang telah berlalu.

Namun, kesadaran terhadap usia seharusnya mendorong manusia untuk menghargai waktu dan keberadaan orang-orang serta hal-hal yang masih dimiliki saat ini.

Pesan lainnya adalah bahwa penuaan merupakan bagian alamiah dari kehidupan. “Keriput” bukan sekadar perubahan fisik, melainkan tanda perjalanan pengalaman manusia.

Gus tf Sakai
Puisi: Usia
Karya: Gus tf

Biodata Gus tf Sakai:
  • Gustrafizal Busra atau lebih dikenal Gus tf Sakai lahir pada tanggal 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, Sumatera Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.