Warna Sakit yang Hilang
apalagi yang mesti dirundingkan di sini
setelah semua warna sakit dan para pembahasnya
digiring ke pojok
engkau masukkan ke peti-peti pembekuan
tentu tak pernah engkau membuang
atau melenyapkannya
tapi desir angin, cerah senyuman maupun
tajuk media massa, tiba-tiba
serupa pemakaman yang sangat sepinya
tak ada pemusnahan memang
tapi engkau telah hilangkan warna-warna musim:
kembang-kembang mekar,
teriakan lebah
dan belaian hujan pada belantara
Madedadi, 1996
Sumber: Kompas (28 Juni 2000)
Analisis Puisi:
Puisi "Warna Sakit yang Hilang" karya Herry Lamongan merupakan puisi reflektif yang sarat dengan kritik sosial. Penyair menghadirkan gambaran tentang upaya membungkam penderitaan, membekukan perbedaan pendapat, atau menyembunyikan kenyataan di balik wajah yang tampak tenang. Melalui simbol-simbol alam, puisi ini mengajak pembaca merenungkan bagaimana suatu kebenaran atau rasa sakit dapat disingkirkan tanpa benar-benar dihapuskan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pembungkaman kenyataan dan hilangnya kebebasan untuk mengungkapkan penderitaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kritik terhadap kekuasaan, hilangnya kejujuran, represi, serta perubahan kehidupan sosial yang kehilangan warna dan makna.
Puisi ini bercerita tentang sebuah keadaan ketika segala bentuk "warna sakit" beserta orang-orang yang membicarakannya disingkirkan dan dibungkam. Penyair menggambarkan bahwa penderitaan itu sebenarnya tidak dimusnahkan, melainkan hanya disimpan dan dibekukan sehingga tidak lagi tampak di permukaan.
Akibatnya, kehidupan yang semula penuh warna berubah menjadi sunyi dan kehilangan daya hidup. Angin, senyuman, bahkan media massa yang seharusnya menjadi ruang komunikasi justru terasa seperti pemakaman yang sepi. Pada akhirnya, penyair menunjukkan bahwa yang hilang bukan hanya rasa sakit, tetapi juga kehidupan yang jujur dan alami.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa menyembunyikan persoalan tidak sama dengan menyelesaikannya. Penderitaan yang dibungkam hanya akan menghilang dari pandangan, bukan dari kenyataan.
Puisi ini juga dapat dimaknai sebagai kritik terhadap situasi ketika kritik, aspirasi, atau suara masyarakat dibatasi sehingga ruang publik kehilangan keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
Di sisi lain, hilangnya "warna-warna musim" melambangkan hilangnya keberagaman, kebebasan berekspresi, dan dinamika kehidupan akibat adanya tekanan atau pembatasan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Masalah tidak akan selesai hanya dengan menyembunyikannya.
- Kebebasan menyampaikan kebenaran perlu dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.
- Kejujuran lebih penting daripada sekadar menciptakan kesan bahwa semuanya baik-baik saja.
- Kehidupan akan kehilangan makna apabila kritik dan perbedaan pendapat dibungkam.
- Keberagaman suara merupakan bagian penting dari kehidupan yang sehat dan demokratis.
Puisi "Warna Sakit yang Hilang" karya Herry Lamongan merupakan puisi kritik sosial yang mengangkat persoalan pembungkaman, hilangnya kebebasan berekspresi, dan kecenderungan menyembunyikan kenyataan pahit. Melalui simbol-simbol seperti warna, musim, hujan, dan pemakaman, penyair menegaskan bahwa penderitaan yang disembunyikan tidak pernah benar-benar hilang, melainkan hanya dipendam hingga kehidupan kehilangan dinamika dan kejujurannya.
Puisi ini mengajak pembaca untuk menghargai keterbukaan, keberanian menyampaikan kebenaran, dan pentingnya menjaga ruang bagi berbagai suara dalam kehidupan bersama.
Karya: Herry Lamongan
Biodata Herry Lamongan:
- Herry Lamongan, bernama asli Djuhaeri, lahir pada tanggal 8 Mei 1959 di Bondowoso, Jawa Timur.