Puisi: Bocah Bermain Ayunan (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Bocah Bermain Ayunan” karya Wayan Jengki Sunarta mengingatkan bahwa terdapat banyak hal dalam kehidupan yang tidak dapat diketahui secara ...
Bocah Bermain Ayunan

bocah bermain ayunan
di tangga menuju awan
dia berputar-putar pada dua tali
dari tumbuhan jalar
terus berputar dan berayun
seolah menduga di tangga ke berapa
pintu surga terbuka

dari gaun putihnya
tiga merpati bersih hambur
langit begitu biru
seperti mata bocah perempuan
yang bermain ayunan itu

di tangga ke sembilan
sosok tua berjubah kelam
melepas helai demi helai kertas ke udara

kertas-kertas melayang
menjelma burung
namaku
atau namamu
tertulis entah
pada helai kertas ke berapa

bocah perempuan itu
larut bermain di awan
perlahan dia menjadi ayunan

pintu surga
belum juga terbuka

2003

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Bocah Bermain Ayunan” karya Wayan Jengki Sunarta menghadirkan gambaran yang sederhana sekaligus penuh simbol. Seorang bocah perempuan yang bermain ayunan menjadi pusat penggambaran dalam puisi ini. Namun, ayunan, awan, tangga, merpati, sosok tua berjubah kelam, dan pintu surga tidak hanya berfungsi sebagai gambaran visual, melainkan juga memiliki makna yang lebih dalam.

Penyair membawa pembaca memasuki ruang antara dunia nyata dan dunia simbolik. Puisi ini dapat dipahami sebagai renungan mengenai kehidupan, kematian, perjalanan menuju sesuatu yang tidak diketahui, serta ketidakpastian tentang apa yang berada di balik kehidupan.

Tema

Tema utama dalam puisi ini berkaitan dengan kehidupan, kematian, dan perjalanan menuju sesuatu yang belum diketahui.

Gambaran seorang bocah perempuan yang terus bermain ayunan di antara awan memberikan kesan seperti sebuah perjalanan menuju tempat yang lebih tinggi. Hal tersebut semakin kuat melalui penggambaran “tangga menuju awan” dan “pintu surga”. Surga dalam puisi tidak hanya dapat dipahami sebagai tempat secara harfiah, tetapi juga sebagai simbol tujuan akhir atau sesuatu yang masih menjadi misteri bagi manusia.

Tema tersebut diperkuat pada bagian akhir ketika penyair menulis:

“pintu surga
belum juga terbuka”

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa perjalanan yang dilakukan sang bocah belum sampai pada suatu kepastian. Ada penantian dan misteri yang sengaja dibiarkan terbuka.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini cukup kuat karena banyak objek yang digunakan memiliki kemungkinan makna simbolis.

Bocah perempuan dapat dimaknai sebagai lambang kepolosan, kehidupan, atau manusia yang sedang menjalani perjalanan tanpa mengetahui secara pasti tujuan akhirnya.

Ayunan dapat melambangkan perjalanan kehidupan. Ayunan bergerak maju dan mundur, naik dan turun. Gerak tersebut dapat dikaitkan dengan dinamika kehidupan manusia yang tidak selalu berjalan lurus.

Sementara itu, tangga menuju awan dapat menjadi simbol perjalanan menuju sesuatu yang lebih tinggi atau menuju kehidupan setelah kematian. Penyebutan “pintu surga” memperkuat tafsir tersebut.

Tiga merpati bersih yang keluar dari gaun putih dapat memberikan kesan kesucian, kedamaian, kebebasan, atau pelepasan dari kehidupan duniawi.

Kemunculan sosok tua berjubah kelam menghadirkan suasana yang berbeda. Sosok tersebut dapat dibaca sebagai simbol kematian, waktu, atau figur misterius yang berkaitan dengan perjalanan manusia menuju akhir kehidupannya. Namun, puisi tidak memberikan penjelasan eksplisit sehingga maknanya tetap terbuka untuk berbagai penafsiran.

Bagian:

“namaku
atau namamu
tertulis entah
pada helai kertas ke berapa”

menunjukkan ketidakpastian. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan dan bagaimana dirinya akan sampai pada akhir perjalanan.

Kemudian, ungkapan:

“perlahan dia menjadi ayunan”

dapat dimaknai sebagai hilangnya batas antara manusia dan perjalanan yang sedang dijalaninya. Bocah tersebut tidak lagi sekadar memainkan ayunan, tetapi seolah-olah menyatu dengan ayunan itu sendiri.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini tidak dinyatakan secara langsung. Pembaca perlu menemukan pesannya melalui simbol dan gambaran yang digunakan penyair.

Salah satu pesan yang dapat ditafsirkan adalah bahwa kehidupan dan kematian merupakan perjalanan yang penuh misteri. Manusia tidak mengetahui kapan perjalanan tersebut akan berakhir dan apa yang akan ditemuinya setelah itu.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa terdapat banyak hal dalam kehidupan yang tidak dapat diketahui secara pasti. Hal tersebut terlihat dari pertanyaan tentang pada tangga ke berapa pintu surga akan terbuka dan pada lembar kertas mana nama seseorang tertulis.

Selain itu, puisi dapat mengajak pembaca untuk merenungkan kehidupan dengan kesadaran bahwa manusia pada akhirnya akan menghadapi suatu batas yang tidak dapat diketahuinya secara pasti.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Bocah Bermain Ayunan
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.