Puisi: Dialog Burung dan Bunga pada Musim Semi (Karya Melki Deni)

Puisi “Dialog Burung dan Bunga pada Musim Semi” karya Melki Deni mengingatkan bahwa kekaguman terhadap alam seharusnya tidak berujung pada tindakan ..
Dialog Burung dan Bunga pada Musim Semi

Di pintu Stasiun Ópera sekelompok burung berkerumun,
mencari kalau-kalau ada orang yang menjatuhkan makanan.
Seketika ada yang buru-buru lewat tanpa permisi,
mereka terbang kembali ranting pohon musim semi.
Bunga-bunga bertanya kepada sekolompok burung yang
menghinggapi rantingnya, yang nyaris membuatnya terjatuh
dan yang akan diinjak oleh orang-orang, "mengapa kalian berlari?
Apakah mereka tidak mencintai kalian?"
Sementara mengepak-ngepakkan sayapnya,
burung-burung menjawab, "mereka hanya mencintai daging kami,
bukan bulu-bulu kami yang indah!"
Bunga-bunga musim semi pun berbisik,
"Begitulah mereka menyukai keindahan kami
Hanya ketika kami sedang menyatu dengan ranting, dahan, pohon, dan akar.
Setelah kami jatuh ke tanah kami tidak disukai. Seringkali mereka mematahkan
kami dari ranting, dahan, pohon, dan akar, setelah itu kami dibuang di tanah".

Corazón de María 19‒Madrid, 26 de Marzo 2023

Analisis Puisi:

Puisi “Dialog Burung dan Bunga pada Musim Semi” karya Melki Deni merupakan puisi yang menggunakan dialog antara burung dan bunga sebagai sarana untuk menyampaikan kritik terhadap cara manusia memperlakukan makhluk hidup dan keindahan alam. Dengan mengambil latar Stasiun Ópera dan suasana musim semi, penyair menghadirkan percakapan yang sederhana, tetapi mengandung persoalan yang lebih luas mengenai eksploitasi, keindahan, dan penghargaan manusia terhadap sesuatu.

Burung dan bunga dalam puisi ini tidak sekadar menjadi bagian dari alam. Keduanya diberi kemampuan untuk berbicara dan menyampaikan pandangan terhadap perilaku manusia. Melalui dialog tersebut, pembaca diajak melihat sebuah ironi: manusia dikisahkan mencintai sesuatu bukan karena keberadaannya secara utuh, melainkan karena bagian tertentu yang memberikan manfaat atau keindahan bagi mereka.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap kecenderungan manusia mencintai dan menghargai sesuatu hanya berdasarkan manfaat atau keindahannya. Tema tersebut terlihat jelas melalui percakapan antara burung dan bunga. Burung mengatakan:

“mereka hanya mencintai daging kami,
bukan bulu-bulu kami yang indah!”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa burung merasa manusia tidak benar-benar menghargai kehidupannya. Manusia justru tertarik pada bagian tertentu dari tubuh burung.

Hal yang sama kemudian dikemukakan oleh bunga. Bunga mengatakan bahwa manusia menyukai keindahannya ketika masih melekat pada:

“ranting, dahan, pohon, dan akar.”

Namun, ketika bunga telah jatuh ke tanah, bunga tidak lagi disukai.

Dengan demikian, tema puisi ini juga berkaitan dengan eksploitasi terhadap alam, sifat manusia yang memilih-milih dalam memberikan penghargaan, serta kecenderungan menilai sesuatu berdasarkan kegunaan dan penampilan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini jauh lebih luas daripada percakapan antara burung dan bunga. Burung dan bunga dapat dipandang sebagai simbol makhluk hidup dan alam yang sering dinilai berdasarkan manfaat atau keindahannya bagi manusia.

Ketika burung mengatakan bahwa manusia hanya mencintai dagingnya, terdapat kritik terhadap sikap manusia yang menjadikan makhluk hidup sebagai objek konsumsi. Burung tidak dipandang sebagai makhluk yang memiliki kehidupan, melainkan sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan.

Hal serupa terjadi pada bunga. Manusia menganggap bunga indah ketika masih berada di tempatnya. Namun, manusia juga:

“Seringkali mereka mematahkan
kami dari ranting, dahan, pohon, dan akar”

Di sini terdapat ironi. Manusia mengagumi bunga, tetapi pada saat yang sama melakukan tindakan yang memisahkan bunga dari sumber kehidupannya.

Makna tersirat lainnya adalah cinta yang bersyarat. Manusia seolah-olah mencintai sesuatu selama sesuatu tersebut memberikan manfaat, keindahan, atau kesenangan. Ketika manfaat tersebut hilang, perhatian manusia juga ikut menghilang.

Pesan tersebut sebenarnya dapat diterapkan tidak hanya pada hubungan manusia dengan alam, tetapi juga pada kehidupan sosial: seseorang seharusnya tidak dihargai semata-mata karena penampilan, fungsi, atau manfaat yang dapat diberikannya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa manusia seharusnya menghargai makhluk hidup dan alam secara utuh, bukan hanya berdasarkan manfaat atau keindahannya.

Burung dan bunga sama-sama memberikan gambaran tentang bagaimana manusia memperlakukan alam. Burung dimanfaatkan untuk dagingnya, sedangkan bunga dinikmati keindahannya tetapi sering dipatahkan dari tempat tumbuhnya.

Puisi ini mengingatkan bahwa kekaguman terhadap alam seharusnya tidak berujung pada tindakan yang merusaknya.

Bunga yang indah seharusnya dibiarkan tumbuh di tempatnya. Demikian pula burung seharusnya dihargai sebagai makhluk hidup, bukan semata-mata sebagai sumber makanan.

Pesan yang lebih luas adalah jangan mencintai sesuatu hanya karena manfaat yang dapat diberikan kepada kita. Penghargaan yang tulus seharusnya mempertimbangkan keberadaan, kehidupan, dan hak sesuatu untuk tetap hidup secara alami.

Puisi Melki Deni
Puisi: Dialog Burung dan Bunga pada Musim Semi
Karya: Melki Deni

Biodata Melki Deni:
  • Melki Deni adalah mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores, NTT.
  • Melki Deni menjuarai beberapa lomba penulisan karya sastra, musikalisasi puisi, dan sayembara karya ilmiah baik lokal maupun tingkat nasional.
  • Buku Antologi Puisi pertamanya berjudul TikTok. Aku Tidak Klik Maka Aku Paceklik (Yogyakarta: Moya Zam Zam, 2022).
  • Saat ini ia tinggal di Madrid, Spanyol.
© Sepenuhnya. All rights reserved.