Analisis Puisi:
Puisi “Dongeng Nenek Sebelum Tidur” karya Gunoto Saparie merupakan puisi yang mengangkat kenangan masa kanak-kanak, cerita dari masa lalu, serta hubungan seseorang dengan sejarah dan kebudayaan Melayu. Melalui kenangan tentang dongeng nenek, penyair memperlihatkan bagaimana cerita masa lalu dapat tetap melekat dalam ingatan meskipun waktu telah berlalu dan sebagian maknanya mulai sulit dipahami.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kenangan masa kanak-kanak dan warisan sejarah serta budaya dari masa lalu.
Puisi ini bercerita tentang ingatan penyair terhadap dongeng yang pernah disampaikan oleh nenek ketika ia masih kecil. Seiring berjalannya waktu, kenangan tersebut semakin kabur. Namun, beberapa nama dan kisah tertentu masih tersimpan dalam ingatannya, seperti Sultan Yahya, Adat Melayu, dan Datuk Bandar.
Dengan demikian, tema puisi tidak hanya berkaitan dengan kenangan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan usaha manusia mengingat kembali sejarah dan identitas budaya yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa warisan budaya dan sejarah dapat perlahan-lahan terlupakan apabila tidak dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dongeng nenek bukan sekadar cerita pengantar tidur. Di dalamnya terdapat nama tokoh, adat, sejarah, serta gambaran tentang kejayaan masa silam. Namun, penyair ketika dewasa menyadari bahwa ada bagian dari cerita tersebut yang sudah tidak dapat ia pahami sepenuhnya.
Hal itu diperkuat oleh larik:
“namun ada yang tak bisa kubaca isyaratnya”
Larik tersebut dapat dimaknai sebagai kesadaran bahwa terdapat pesan atau simbol dari masa lalu yang belum berhasil dipahami oleh generasi sekarang.
Puisi ini secara tersirat juga mengajak pembaca untuk tidak membiarkan sejarah dan kebudayaan hilang hanya karena perubahan zaman.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini antara lain:
- Kita perlu menghargai dan menjaga warisan budaya dari generasi sebelumnya.
- Sejarah dan cerita masa lalu perlu dipelajari agar tidak hilang ditelan zaman.
- Waktu dapat membuat kenangan semakin kabur sehingga penting untuk mendokumentasikan dan meneruskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
- Cerita dari orang-orang terdahulu dapat mengandung nilai sejarah dan budaya yang penting bagi identitas suatu masyarakat.
- Generasi muda perlu berusaha memahami makna yang terkandung dalam warisan budaya, bukan sekadar mengingat nama atau peristiwanya.
Puisi “Dongeng Nenek Sebelum Tidur” karya Gunoto Saparie mengingatkan pembaca bahwa cerita masa lalu bukan hanya kenangan, tetapi juga dapat menjadi bagian penting dari identitas budaya. Karena itu, sejarah, adat, dan kisah yang diwariskan oleh generasi terdahulu perlu dipelajari, dipahami, dan diteruskan agar tidak semakin mengabur ditelan zaman.
Karya: Gunoto Saparie
BIODATA GUNOTO SAPARIE
Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004). Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain. Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.
Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta).
Selain di bidang pers, ia pernah bekerja di bidang pendidikan, yaitu guru di SMP Yasbumi Cepiring, SMP PGRI Patebon, SMP Muhammadiyah Kendal, dan SMA Al-Farabi Pegandon. Ia pernah pula bekerja di CV Sido Luhur Kendal dan PT Aryacipta Adibrata Semarang.
Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
