Gerimis atas Bunga
riakan kolam
titik air di bunga
berumah tanah
musim gerimis
bunga citra lestari
tidur di bumi
sehelai gugur
setangkai mawar kuyup
mata terkatup
tak ternyanyikan
mega mendung berarak
irama hujan
cucuran air
bunga citra lestari
kolam yang sunyi
15 Februari 2020
Analisis Puisi:
Puisi “Gerimis atas Bunga” karya Jang Sukmanbrata menghadirkan gambaran alam yang sederhana, tetapi menyimpan suasana yang kuat dan penuh perenungan. Gerimis, kolam, bunga, tanah, mendung, dan hujan menjadi unsur-unsur utama yang membangun keseluruhan puisi.
Puisi ini menggunakan kata-kata yang singkat dan simbolis. Kehadiran “bunga citra lestari” yang muncul berulang kali menjadi salah satu bagian penting dalam puisi. Di tengah gambaran gerimis dan kolam yang sunyi, bunga seolah menjadi pusat perhatian yang menghubungkan kehidupan, kesunyian, dan peristiwa alam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesunyian, kehidupan, dan kematian yang digambarkan melalui hubungan antara alam dan bunga.
Penyair menghadirkan bunga yang berada dalam suasana gerimis. Ada bunga yang tertimpa titik-titik air, ada sehelai yang gugur, dan ada setangkai mawar yang kuyup. Gambaran tersebut dapat dibaca secara harfiah sebagai pemandangan alam, tetapi juga dapat menjadi simbol perjalanan kehidupan manusia.
Larik:
“sehelai gugur”
dan:
“tidur di bumi”
menghadirkan kesan tentang sesuatu yang telah berakhir atau kembali kepada tanah. Sementara itu, suasana “kolam yang sunyi” semakin memperkuat tema kesunyian.
Dengan demikian, tema puisi ini tidak hanya berkaitan dengan keindahan alam ketika gerimis, tetapi juga tentang kehidupan, kehilangan, dan kesunyian.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini dapat ditafsirkan sebagai gambaran tentang kehidupan yang tidak kekal, kehilangan, dan kenangan yang tertinggal dalam kesunyian.
Bunga sering digunakan sebagai simbol kehidupan, keindahan, atau seseorang yang memiliki arti penting. Ketika penyair menulis:
“sehelai gugur”
kata “gugur” dapat dimaknai lebih jauh sebagai simbol berakhirnya kehidupan atau hilangnya sesuatu yang berharga.
Larik:
“tidur di bumi”
juga dapat memiliki makna tersirat tentang seseorang atau sesuatu yang telah kembali kepada tanah. Kata “tidur” memberikan kesan yang lebih lembut dibandingkan kata yang secara langsung menyatakan kematian.
Sementara itu:
“mata terkatup”
dapat menjadi simbol berakhirnya kesadaran, perpisahan, atau kematian.
Pengulangan “bunga citra lestari” dapat memberikan kesan bahwa bunga tersebut merupakan pusat kenangan atau simbol dari sosok tertentu yang terus diingat. Namun, tanpa keterangan tambahan dari penyair, makna khusus nama tersebut tetap terbuka untuk berbagai penafsiran pembaca.
Pada akhirnya, “kolam yang sunyi” dapat dimaknai sebagai simbol keadaan setelah sebuah peristiwa berlalu: segala sesuatu kembali diam, tetapi kenangan tetap tertinggal.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan dan keindahan bersifat sementara. Seperti bunga yang dapat gugur dan mawar yang menjadi kuyup oleh hujan, segala sesuatu dapat mengalami perubahan dan pada akhirnya meninggalkan kenangan.
Puisi ini juga mengajak pembaca untuk memahami bahwa kehilangan merupakan bagian dari kehidupan. Ketika sesuatu yang berharga telah pergi, yang tersisa sering kali adalah kenangan dan kesunyian.
Selain itu, puisi ini mengajarkan kita untuk menghargai kehidupan dan keindahan selagi masih ada. Bunga yang indah dapat gugur, hujan dapat berhenti, dan riakan kolam pada akhirnya kembali tenang.
Puisi: Gerimis atas Bunga
Karya: Jang Sukmanbrata
Biodata Jang Sukmanbrata:
Jang Sukmanbrata lahir pada tanggal 17 Agustus 1964 di Bandung. Ia menulis karya sastra dengan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia dalam berbagai genre mulai dari puisi, guguritan, lirik, balada, epik, naratif, tanka, haiku, dan bahkan esai.
Puisi-puisinya terangkum di berbagai Buku Antologi Puisi, seperti Penyair Bandung (1981), Negeri Pesisiran (2019), Negeri Rantau (2020), Raja Kelana (2022) dan beberapa lainnya.
Karya sastranya yang lain bisa dijumpai dan tersebar di berbagai Media Online dan Media Offline, seperti di Majalah Basis, koran Bali Pos, Pikiran Rakyat Bandung, dan lain sebagainya.
Jang Sukmanbrata saat ini aktif mengadvokasi - melestarikan nilai-nilai Kabuyutan Sunda-Nusantara.
