Puisi: Ijogading (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Ijogading” karya Wayan Jengki Sunarta menunjukkan bahwa sebuah tempat dapat memiliki hubungan yang sangat dalam dengan identitas seseorang.
Ijogading

yang sunyi di sini
dibawa bunga hanyut
susuri sungai karma

ijogading. ijogading. ijogading
alir air hayat bumi makepung
aliri lara rindu lebai
rerimbun pohon pantun di pasisi
memukat kenangan nelayan

menyimak cengkerama kunangkunang
di langit malam ijogading
bulan sabit menoreh sauh jiwa
saat batin zikir sembahyang

loloan timur. ijogading. loloan barat
nyaman abadi dipangku anak dara
rumah panggung memeram hangat tubuhku
si lebai perindu yang merinding haru
dengar burdah syair

lebai. ijogading. lebai
mengalir masuk nadimu
pusat ilham hayati
melepas jangkar rindu
melabuh diri di pangkuan bumi

ke muara. ke muara
lepas perjalanan
menemu haru cuaca

1996

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Ijogading” karya Wayan Jengki Sunarta merupakan puisi yang kaya akan gambaran alam, budaya, spiritualitas, kerinduan, dan kenangan. Melalui sungai, bunga yang hanyut, kunang-kunang, bulan sabit, rumah panggung, nelayan, hingga suara burdah, penyair menghadirkan sebuah ruang puitik yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir.

Judul “Ijogading” menjadi kata yang terus muncul dalam puisi. Pengulangan tersebut memberikan kesan bahwa Ijogading bukan sekadar nama tempat, tetapi merupakan ruang yang menyimpan kenangan, identitas, kerinduan, dan pengalaman batin penyair.

Puisi ini juga menggunakan banyak kata yang berkaitan dengan air dan perjalanan, seperti sungai, alir, memukat, sauh, jangkar, melabuh, dan muara. Kosakata tersebut membentuk satu jaringan simbol yang kuat: kehidupan digambarkan sebagai perjalanan yang pada akhirnya menuju sebuah muara.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan terhadap tempat, kenangan, alam, dan kehidupan spiritual yang menyatu dalam perjalanan hidup manusia.

Tema kerinduan sangat terasa melalui kata-kata:

“aliri lara rindu lebai”

dan:

“melepas jangkar rindu
melabuh diri di pangkuan bumi”

Rindu dalam puisi bukan hanya kerinduan kepada seseorang, tetapi juga kepada sebuah tempat dan pengalaman masa lalu.

Ijogading digambarkan sebagai ruang yang menyimpan berbagai pengalaman: sungai, nelayan, rumah panggung, malam, kunang-kunang, burdah, sembahyang, dan kenangan.

Dengan demikian, puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang kembali menyusuri ingatan terhadap suatu tempat yang memiliki ikatan emosional dan spiritual yang kuat.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan dengan hubungan manusia dengan tempat asal, kenangan, alam, dan Tuhan.

Ijogading dapat dipahami bukan hanya sebagai sebuah lokasi, tetapi sebagai ruang ingatan. Tempat tersebut menjadi bagian dari identitas seseorang karena di dalamnya tersimpan pengalaman hidup.

Hal tersebut tampak pada:

“memukat kenangan nelayan”

Kata “memukat” biasanya berkaitan dengan aktivitas menangkap ikan menggunakan jaring. Namun, dalam puisi, yang “ditangkap” justru adalah kenangan. Ini menunjukkan bahwa kenangan diperlakukan seperti sesuatu yang dapat dicari dan dikumpulkan kembali.

Puisi juga menggunakan istilah:

“sungai karma”

Ungkapan tersebut memberikan makna filosofis bahwa kehidupan manusia seperti aliran sungai. Ia terus bergerak dan membawa seseorang melewati berbagai pengalaman, akibat, kesedihan, kerinduan, dan peristiwa kehidupan.

Sementara itu, perjalanan menuju:

“ke muara. ke muara”

dapat ditafsirkan sebagai simbol perjalanan menuju tujuan akhir. Muara adalah tempat sungai bertemu dengan laut. Dalam konteks spiritual, muara dapat dimaknai sebagai titik pertemuan, kepulangan, penyelesaian perjalanan, atau peleburan diri dengan sesuatu yang lebih luas.

Dengan demikian, puisi ini bukan hanya tentang nostalgia terhadap suatu tempat. Di balik gambaran alam dan budaya, terdapat perenungan tentang asal-usul, perjalanan hidup, kerinduan, dan kepulangan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah agar manusia tidak melupakan tempat, kenangan, alam, dan akar kehidupan yang membentuk dirinya.

Puisi menunjukkan bahwa sebuah tempat dapat memiliki hubungan yang sangat dalam dengan identitas seseorang. Ijogading bukan hanya ruang geografis, melainkan tempat yang menyimpan pengalaman dan kerinduan.

Selain itu, puisi mengajarkan bahwa perjalanan hidup manusia tidak terlepas dari alam dan spiritualitas. Air yang terus mengalir menjadi gambaran kehidupan yang terus bergerak.

Manusia pada akhirnya akan sampai pada “muara” masing-masing. Oleh karena itu, perjalanan kehidupan sebaiknya dijalani dengan kesadaran, penghargaan terhadap alam, dan hubungan spiritual yang baik.

Puisi ini juga mengandung pesan bahwa kenangan tidak selalu harus dilupakan. Kenangan dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk memahami siapa diri kita dan dari mana kita berasal.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Ijogading
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.