Jangan Berhenti Dicinta!
Jangan berhenti dicinta!
Kalian saudaraku satu keturunan utusan Tuhan
jangan kau ributkan perbedaan agama,
cara beribadah,
itu adalah sifat hewan melata
Kecuali singa si pendiam yang berkarisma
tak mencela tak menghina, ia peka kebaikan
Singa banyak mengaji dirinya sendiri
Menyendiri, terkadang menangis rindu Raja Wali di balik ilalang kering,
Saat mengaum
di lidahnya Firman-Mu terpahat
Jangan berhenti mencintai dengan tindakan
Sebab tindakan itu kepakan burung di udara
Langkah kuat di pendakian gunung
Kayuh perahu di depan ombak laut
Aku mencintaimu, darah dagingku aliran hidupmu.
Bersama dalam satu pembagian ruh
Kitab pedoman satu, dada beristanakan kalbu
Kitab baqa! Kata-Mu
Jangan buang dendam kalian
alihkan menjadi rindu dendam kepada Tuhan
belajar dari tekuk lututnya lumut ke waktu
bekerja memberi arti kering ke mentari siang
Sudahlah aku tak mampu bicara panjang
ketika Tuhan berkata: "Dusta lahir dari orang banyak omongan".
Buka buku dirimu!
Bacalah atas nama udara
dan cinta tanpa tapal batas,
tak ada limbahnya
meski melewati tangis dan tetesan darah
Jangan meniru! Cinta itu madu murni
segala air tentara pasukan sarang lebah
Kabuyutan Rajamandala, 25 Oktober 2019
Analisis Puisi:
Puisi “Jangan Berhenti Dicinta!” karya Jang Sukmanbrata merupakan puisi yang mengangkat persoalan cinta, persaudaraan, perbedaan agama, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Sejak judulnya, penyair sudah menyampaikan sebuah seruan agar cinta tidak berhenti hanya sebagai perasaan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata.
Puisi ini menggunakan bahasa yang simbolis dan religius. Penyair berbicara kepada “kalian” yang disebut sebagai saudara satu keturunan utusan Tuhan. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya gagasan mengenai persaudaraan manusia yang melampaui perbedaan identitas dan cara beribadah.
Penyair kemudian mengajak pembaca untuk tidak memperdebatkan perbedaan agama dan cara beribadah. Sebaliknya, manusia diminta mengembangkan cinta melalui tindakan, introspeksi, kerinduan kepada Tuhan, serta perbuatan yang memberikan arti bagi kehidupan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta kepada sesama manusia dan Tuhan yang diwujudkan melalui tindakan, persaudaraan, serta penerimaan terhadap perbedaan. Tema tersebut tampak sejak bagian:
“Kalian saudaraku satu keturunan utusan Tuhan”
Penyair menempatkan manusia sebagai saudara. Perbedaan yang terdapat di antara manusia tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling membenci atau menghina.
Gagasan tersebut diperjelas melalui:
“jangan kau ributkan perbedaan agama,cara beribadah”
Penyair mengkritik kecenderungan manusia yang terlalu sibuk memperdebatkan perbedaan keagamaan. Bagi penyair, yang lebih penting adalah bagaimana manusia menunjukkan kebaikan melalui tindakan.
Hal ini ditegaskan dalam:
“Jangan berhenti mencintai dengan tindakan”
Dengan demikian, puisi ini bercerita tentang ajakan untuk menjaga persaudaraan, menghindari permusuhan akibat perbedaan, serta menjadikan cinta kepada Tuhan dan sesama sebagai sesuatu yang diwujudkan dalam perbuatan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan dengan kritik terhadap manusia yang lebih banyak berbicara tentang agama dan kebenaran, tetapi belum tentu menerapkannya dalam kehidupan.
Penyair mengatakan:
“Jangan berhenti mencintai dengan tindakan”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa cinta tidak cukup hanya diucapkan. Cinta harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti membantu, menghormati, menjaga, dan memberikan manfaat kepada sesama.
Makna tersebut semakin kuat pada bagian:
“Sudahlah aku tak mampu bicara panjangketika Tuhan berkata: ‘Dusta lahir dari orang banyak omongan’.”
Bagian ini dapat ditafsirkan sebagai kritik terhadap banyaknya perkataan yang tidak disertai perbuatan. Seseorang dapat berbicara panjang mengenai kebaikan, agama, atau Tuhan, tetapi nilai sebenarnya terlihat dari tindakannya.
Ungkapan:
“Buka buku dirimu!”
juga mengandung ajakan untuk melakukan introspeksi. Manusia diminta membaca dan memahami dirinya sendiri sebelum sibuk menilai orang lain.
Dengan demikian, puisi ini menyiratkan bahwa keberagamaan dan kecintaan kepada Tuhan seharusnya tercermin dalam perilaku, bukan hanya dalam ucapan atau perdebatan mengenai perbedaan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah agar manusia tidak menjadikan perbedaan agama dan cara beribadah sebagai alasan untuk saling membenci, menghina, atau bermusuhan.
Penyair mengajak manusia untuk memusatkan perhatian pada tindakan nyata:
“Jangan berhenti mencintai dengan tindakan”
Cinta yang sesungguhnya bukan sekadar kata-kata. Cinta harus menghasilkan perbuatan yang memberikan manfaat.
Pesan lain yang sangat penting adalah perlunya melakukan introspeksi. Hal tersebut terlihat dalam:
“Buka buku dirimu!”
Manusia sebaiknya membaca dan memperbaiki dirinya sendiri sebelum menghakimi orang lain.
Puisi ini juga mengajarkan bahwa dendam dapat dialihkan menjadi kerinduan kepada Tuhan:
“alihkan menjadi rindu dendam kepada Tuhan”
Artinya, energi negatif berupa kebencian dan dendam sebaiknya diarahkan menjadi dorongan spiritual yang lebih positif.
Secara keseluruhan, amanat puisi ini adalah mencintai sesama melalui tindakan nyata, menghargai perbedaan, menghindari kebencian, memperbanyak introspeksi, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Puisi: Jangan Berhenti Dicinta!
Karya: Jang Sukmanbrata
Biodata Jang Sukmanbrata:
Jang Sukmanbrata lahir pada tanggal 17 Agustus 1964 di Bandung. Ia menulis karya sastra dengan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia dalam berbagai genre mulai dari puisi, guguritan, lirik, balada, epik, naratif, tanka, haiku, dan bahkan esai.
Puisi-puisinya terangkum di berbagai Buku Antologi Puisi, seperti Penyair Bandung (1981), Negeri Pesisiran (2019), Negeri Rantau (2020), Raja Kelana (2022) dan beberapa lainnya.
Karya sastranya yang lain bisa dijumpai dan tersebar di berbagai Media Online dan Media Offline, seperti di Majalah Basis, koran Bali Pos, Pikiran Rakyat Bandung, dan lain sebagainya.
Jang Sukmanbrata saat ini aktif mengadvokasi - melestarikan nilai-nilai Kabuyutan Sunda-Nusantara.
