Puisi: Jembatan Lemah Ireng (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Jembatan Lemah Ireng” karya Gunoto Saparie menyampaikan bahwa kenangan terhadap seseorang tidak selalu harus dihilangkan. Kenangan dapat ...
Jembatan Lemah Ireng

melintasi jembatan lemah ireng
mobil mendadak melambat
ketika sebentar lagi remang
ketika malam segera merapat

haruskah kusebutkan namamu
setiap kulewati jembatan ini
haruskah tak pernah selesai dukamu
haruskah perkabungan ini abadi

melewati jembatan penuh cerita
kulihat wajahku renta di kaca spion
sambil menghitung usia di aspal jalan
kelam pun terus merayap sia-sia

ingatanmu kini tak lagi panjang
kenangan dan mimpi terbawa arus kali
mengalir ke laut, menuju dermaga sepi
di seberang sungai ada kunang-kunang

angin musim mendesau makin rawan
adakah yang ingin diucapkan
adakah yang ingin dituliskan
pada kedalaman kali, pada kegelisahan...

2022

Analisis Puisi:

Puisi “Jembatan Lemah Ireng” karya Gunoto Saparie merupakan puisi yang menghadirkan perjalanan fisik melewati sebuah jembatan sebagai gambaran perjalanan batin seseorang. Jembatan dalam puisi ini bukan hanya tempat yang dilalui, tetapi menjadi ruang untuk mengenang seseorang, menghadapi usia, mengingat kehilangan, dan mempertanyakan hal-hal yang masih tersimpan dalam hati.

Dengan latar jembatan, malam, sungai, angin, laut, dan dermaga, penyair membangun suasana yang muram dan reflektif. Perjalanan melewati jembatan seolah membawa penyair kembali kepada masa lalu. Ingatan, dukacita, perkabungan, dan kenangan kemudian bercampur dengan kesadaran bahwa waktu terus berjalan.

Puisi ini menjadi menarik karena perjalanan menuju suatu tempat justru berubah menjadi perjalanan ke dalam diri sendiri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan, kehilangan, dan perenungan terhadap perjalanan hidup serta waktu yang terus berlalu. Tema tersebut tampak sejak bait kedua:

“haruskah kusebutkan namamu
setiap kulewati jembatan ini”

Jembatan menjadi pemicu munculnya kenangan terhadap seseorang. Setiap kali penyair melewati tempat tersebut, ingatan tentang seseorang kembali hadir.

Selain itu, terdapat pertanyaan:

“haruskah tak pernah selesai dukamu
haruskah perkabungan ini abadi”

Kedua larik tersebut memperlihatkan adanya kesedihan dan kehilangan yang belum sepenuhnya selesai.

Tema tentang perjalanan waktu semakin jelas ketika penyair mengatakan:

“kulihat wajahku renta di kaca spion
sambil menghitung usia di aspal jalan”

Perjalanan melewati jembatan akhirnya menjadi simbol perjalanan usia. Penyair tidak hanya melewati jalan, tetapi juga menyadari bahwa dirinya semakin tua.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan dengan proses menghadapi kehilangan, menerima berlalunya waktu, dan berdamai dengan kenangan masa lalu.

Jembatan dapat ditafsirkan sebagai simbol peralihan. Secara fisik, jembatan menghubungkan satu sisi sungai dengan sisi lainnya. Secara simbolis, jembatan dapat menggambarkan perjalanan dari masa lalu menuju masa kini, atau dari suatu keadaan kehidupan menuju keadaan yang berbeda.

Ketika penyair melewati jembatan, kenangan terhadap seseorang kembali muncul. Hal tersebut menunjukkan bahwa tempat tertentu dapat menjadi pemicu kuat bagi ingatan manusia.

Larik:

“kulihat wajahku renta di kaca spion”

mengandung makna bahwa perjalanan tersebut membuat penyair menyadari perubahan dirinya. Kaca spion biasanya digunakan untuk melihat sesuatu yang berada di belakang. Dalam konteks puisi, kaca spion dapat menjadi simbol masa lalu.

Menariknya, ketika melihat ke belakang, penyair justru melihat wajahnya sendiri yang telah renta. Artinya, masa lalu tidak hanya berisi kenangan tentang orang lain, tetapi juga memperlihatkan perubahan dirinya sendiri.

Sementara itu:

“kenangan dan mimpi terbawa arus kali”

dapat dimaknai sebagai kesadaran bahwa waktu tidak dapat dihentikan. Kenangan dan mimpi yang pernah dimiliki akhirnya ikut mengalir bersama perjalanan kehidupan.

Namun, kehadiran:

“di seberang sungai ada kunang-kunang”

dapat memberikan simbol harapan. Di tengah kegelapan, masih terdapat cahaya kecil. Dengan demikian, puisi tidak sepenuhnya berbicara tentang kesedihan. Ada kemungkinan bahwa di balik kehilangan dan perjalanan waktu, masih terdapat secercah harapan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa manusia perlu menghadapi kehilangan dan kenangan sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Duka memang dapat bertahan lama, tetapi manusia juga harus menyadari bahwa waktu terus berjalan. Hal tersebut tergambar melalui perjalanan mobil, jalan, sungai, dan usia.

Puisi ini juga menyampaikan bahwa kenangan terhadap seseorang tidak selalu harus dihilangkan. Kenangan dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup, tetapi seseorang perlu belajar menerima bahwa masa lalu tidak dapat diulang.

Gambaran kunang-kunang di seberang sungai dapat dimaknai sebagai pesan bahwa di tengah kegelapan dan kesedihan, masih mungkin terdapat harapan dan cahaya.

Selain itu, pertanyaan pada bagian akhir mengingatkan bahwa dalam kehidupan sering terdapat kata-kata yang belum sempat disampaikan dan perasaan yang belum sempat dituliskan. Karena itu, puisi ini secara tidak langsung mengajak pembaca untuk menghargai waktu, menyampaikan perasaan, dan tidak menunda hal-hal penting kepada orang-orang yang berarti.

Gunoto Saparie
Puisi: Jembatan Lemah Ireng
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.