Analisis Puisi:
Puisi “Kwatrin Perantauan” karya Gunoto Saparie merupakan puisi pendek yang menghadirkan suasana malam di Malioboro sekaligus memperlihatkan percakapan antara dua orang tentang pendidikan dan puisi. Penyair memadukan suasana kota yang basah pada malam hari dengan percakapan mengenai kuliah dan sastra.
Kontras tersebut membuat puisi terasa personal. Ada kegelisahan antara sesuatu yang seharusnya dibicarakan dengan sesuatu yang justru menarik perhatian. Pada akhirnya, puisi tidak hanya berbicara tentang percakapan di sebuah malam, tetapi juga tentang daya tarik bahasa dan puisi yang mampu membuat seseorang lupa sejenak terhadap persoalan hidup.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehidupan perantauan, percakapan tentang pendidikan, serta ketertarikan terhadap dunia puisi dan bahasa.
Kata “perantauan” pada judul memberikan petunjuk mengenai latar pengalaman. Perantauan dapat berkaitan dengan seseorang yang meninggalkan tempat asal untuk menjalani kehidupan di tempat lain, termasuk untuk menempuh pendidikan.
Hal tersebut diperkuat dengan baris:
“namun tak ada pembicaraan apa pun soal kuliah”
Kata “kuliah” menunjukkan adanya persoalan pendidikan yang menjadi bagian dari kehidupan.
Akan tetapi, pembicaraan justru beralih kepada:
“puisi nan indah kata, kalimat, atau diksi”
Di sinilah muncul tema lain yang tidak kalah penting, yaitu kecintaan terhadap sastra. Puisi menunjukkan bagaimana pembicaraan tentang bahasa dan sastra dapat menjadi sesuatu yang begitu menarik hingga membuat lupa terhadap pembicaraan mengenai kuliah.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini dapat dilihat melalui pertentangan antara kuliah dan puisi. Kuliah dapat dipahami sebagai representasi dari tujuan formal seseorang ketika berada di perantauan. Ada tanggung jawab akademik yang harus dijalani. Namun, puisi menghadirkan sesuatu yang lebih personal: ketertarikan, kesenangan, dan kegelisahan intelektual.
Ketika sosok “kau” lebih memilih berbicara tentang puisi daripada kuliah, penyair seolah menunjukkan bahwa kehidupan seorang perantau tidak hanya dibentuk oleh kewajiban formal. Ada pula pengalaman batin, pertemuan, percakapan, dan ketertarikan terhadap sesuatu yang mungkin tidak direncanakan.
Frasa:
“kata, kalimat, atau diksi, membuatku alpa dan gelisah”
memiliki makna yang menarik. Kata, kalimat, dan diksi adalah unsur bahasa, tetapi oleh penyair diberi kekuatan untuk memengaruhi kondisi batin seseorang.
“Alpa” menunjukkan keterlenaan atau kelupaan terhadap hal lain, sedangkan “gelisah” menunjukkan bahwa puisi tidak hanya memberikan kesenangan, tetapi juga dapat menimbulkan pertanyaan, perenungan, atau kegelisahan.
Makna tersirat lainnya adalah bahwa sastra dapat menjadi ruang pelarian sekaligus ruang perenungan bagi seseorang dalam menjalani kehidupan perantauan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang diisampaikan dalam puisi ini tidak disampaikan secara langsung dalam bentuk nasihat. Salah satu pesan yang dapat ditafsirkan adalah bahwa kehidupan tidak hanya berisi kewajiban dan tujuan formal, tetapi juga membutuhkan ruang untuk menikmati gagasan, bahasa, seni, dan pengalaman batin.
Puisi ini juga menunjukkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk memengaruhi manusia. Kata, kalimat, dan diksi bukan hanya unsur teknis dalam sastra, tetapi dapat membangkitkan perasaan, perhatian, bahkan kegelisahan.
Dari sini, pembaca dapat melihat bahwa sastra dapat menjadi bagian dari pengalaman hidup, terutama bagi seseorang yang sedang berada jauh dari tempat asalnya.
Karya: Gunoto Saparie
GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.
Selain menulis puisi, juga mencipta cerita pendek, novel, esai, kritik sastra, dan artikel/opini berbagai masalah kebudayaan, pendidikan, agama, ekonomi, dan keuangan.
Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).
Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).
Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).
Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah.
Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
Selain menulis puisi, juga mencipta cerita pendek, novel, esai, kritik sastra, dan artikel/opini berbagai masalah kebudayaan, pendidikan, agama, ekonomi, dan keuangan.
Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).
Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).
Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).
Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah.
Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
