Puisi: Larung Mala (Karya Firman Fadilah)

Puisi “Larung Mala” karya Firman Fadilah menggambarkan perjalanan batin seseorang yang sedang berusaha melepaskan luka, kecemasan, masa lalu, serta ..
Larung Mala

Akan kularungkan dulu retak tubuh ke telaga yang berkelap-kelip, menggumpal-gumpal berat semula tak pernah putih menuju gelombang pasca erupsi kecemasan, lalu aku akan mengingat di tebing-tebing mana pernah menitipkan pertanyaan, tapi ternyata cuma langkah kakiku menciumi debu-debu seolah-olah bersuci dan membingkai jalan mana yang akan ditempuh selanjutnya.

Akan kulepaskan lambaian barangkali satu putaran jarum panjang, detik ke menit ke belakang bayang diri yang memunggungi. Lupa melupakanlah dulu untuk sesuatu yang pernah menjatuhkan menjadi noktah dan angin yang membisu, meninggikan pasang purnama atau usaha untuk membenci keadaan sampai ke sebuah ceruk mata air asin oleh keringat dan siasat mencari pengakuan.

Dulu ada masa jiwaku bersenjatakan harapan, berbusur sujud panjang kala bintang berserakan sampai sejauh ini kerajaan dalam diri bertitah agar suatu saat seruling berdendang di ujung senja kala tersiar warta persuaan diriku yang menemukan perca-perca kenyataan apa itu melepaskan, melupakan, menghapuskan arus-arus membingungkan.

Setiap kali aku datang, dunia tiba-tiba menyusut menjadi niskala, meskipun senja acapkali membiaskan keindahan, sementara September adalah bulan kelahiranku dan aku mulai kehilangan batas antara yang nyata dan simulakra. Perasaan berkecamuk membuncah teramat, lorong-lorong terlihat panjang, nama-nama meleleh menjadi debu yang tak dikenali sampai-sampai aku pun tak tahu sedang mencari apa.

Waktu bawalah aku ke tempat-tempat dulu pernah ilalang berbisik, angin senjakala bersiul di batas pematang menggumamkan keriangan, dan seluruhnya tampak mungkin karena senja tak berpangkal meski September berkali-kali berganti sama seperti jiwaku yang berayunan, tapi selebihnya kini cuma gemuruh nadiku yang parau, menganyam selasar dari jingga dan magenta senja September ini sebelum hari beranjak gelap melarungkan sesuatu hilang tanpa pertanda.

Lampung, 19 September 2026

Analisis Puisi:

Puisi “Larung Mala” karya Firman Fadilah menggambarkan perjalanan batin seseorang yang sedang berusaha melepaskan luka, kecemasan, masa lalu, serta berbagai hal yang membebani dirinya. Kata “larung” dalam judul memberikan kesan tentang tindakan menghanyutkan atau melepaskan sesuatu agar terbawa pergi, sedangkan “mala” dapat dipahami sebagai sesuatu yang buruk, kesialan, atau beban negatif.

Puisi ini tidak menyampaikan cerita secara linear. Penyair justru membawa pembaca masuk ke dalam arus kesadaran penyair, yang dipenuhi kenangan, pertanyaan, kecemasan, harapan, dan usaha untuk menemukan kembali arah hidup.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan batin untuk melepaskan luka, masa lalu, kecemasan, dan berbagai beban kehidupan demi menemukan kembali diri dan arah kehidupan. Gagasan tersebut terlihat sejak awal melalui ungkapan:

“Akan kularungkan dulu retak tubuh ke telaga yang berkelap-kelip”

Kata “kularungkan” menjadi simbol penting dalam puisi. Penyair seolah ingin menghanyutkan sesuatu yang telah membuat dirinya retak. “Retak tubuh” tidak harus dimaknai sebagai luka fisik, tetapi dapat menjadi simbol luka batin, pengalaman buruk, kecemasan, maupun tekanan kehidupan.

Tema pelepasan semakin kuat pada bagian:

“Lupa melupakanlah dulu untuk sesuatu yang pernah menjatuhkan”

dan:

“apa itu melepaskan, melupakan, menghapuskan arus-arus membingungkan.”

Dengan demikian, puisi ini berpusat pada proses melepaskan sesuatu yang telah berlalu dan mencoba berdamai dengan diri sendiri.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan dengan proses manusia dalam berdamai dengan luka dan pengalaman masa lalu.

“Larung” dapat dipahami sebagai simbol pelepasan. Penyair ingin menghanyutkan hal-hal yang selama ini membebani dirinya. Namun, pelepasan bukan berarti menghapus seluruh masa lalu. Kenangan tetap muncul dalam bentuk tempat, senja, September, debu, angin, dan berbagai bayangan lainnya.

Ungkapan:

“bayang diri yang memunggungi”

dapat dimaknai sebagai gambaran tentang masa lalu atau versi diri yang telah ditinggalkan. Penyair berusaha melihat ke belakang, tetapi sosok tersebut justru membelakanginya.

Sementara itu, ungkapan:

“aku mulai kehilangan batas antara yang nyata dan simulakra”

menunjukkan semakin kaburnya batas antara kenyataan, ingatan, bayangan, dan persepsi. Dalam konteks puisi, pengalaman batin yang begitu kuat membuat realitas menjadi sulit dibedakan dari gambaran yang tercipta dalam pikiran.

Makna tersirat lainnya terdapat pada perubahan suasana dari harapan menuju ketidakpastian. Dahulu penyair memiliki:

“jiwaku bersenjatakan harapan”

tetapi kini ia menghadapi “gemuruh nadiku yang parau”. Perubahan ini memperlihatkan perjalanan psikologis dari sebuah harapan menuju kondisi penuh pergulatan dan pencarian.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa manusia perlu belajar menerima, melepaskan, dan berdamai dengan pengalaman masa lalu agar dapat melanjutkan perjalanan hidup.

Melepaskan bukan berarti menganggap pengalaman tersebut tidak pernah terjadi. Masa lalu tetap menjadi bagian dari perjalanan seseorang. Namun, manusia tidak harus terus-menerus hidup di dalam luka dan kecemasan yang ditimbulkannya.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa proses menemukan diri sendiri tidak selalu berlangsung secara jelas. Ada masa ketika seseorang bahkan tidak mengetahui apa yang sedang dicari. Hal tersebut tampak melalui:

“aku pun tak tahu sedang mencari apa.”

Karena itu, perjalanan batin dapat dipahami sebagai proses yang tidak selalu memiliki jawaban segera. Ada kalanya seseorang perlu memberi waktu kepada dirinya sendiri untuk memahami pengalaman, menerima kenyataan, dan menentukan langkah berikutnya.

Firman Fadilah
Puisi: Larung Mala
Karya: Firman Fadilah

Biodata Firman Fadilah:
  • Firman Fadilah tinggal di Tanggamus, Lampung.
© Sepenuhnya. All rights reserved.