Puisi: Pada Sebuah Kota Lama (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Pada Sebuah Kota Lama" mengajak pembaca untuk merenungkan tentang arti dan nilai dari masa lalu, sejarah, dan identitas suatu tempat.
Pada Sebuah Kota Lama

pada sebuah kota lama kutemukan duka
ada rasa cemas akan kehilangan
ada jejak-jejak yang masih membekas
ketika riwayat membeku serta silsilah terlepas

dan sejarah pun makin jauh mengabur
dibawa angin tenggara entah ke mana
bahkan bayang-bayangku makin samar
jatuh di aspal basah, dingin tak terkira

2020

Analisis Puisi:

Puisi "Pada Sebuah Kota Lama" karya Gunoto Saparie menghadirkan sebuah gambaran tentang suasana nostalgis dan kerinduan terhadap masa lalu dalam konteks sebuah kota tua.

Nostalgia dan Kesedihan: Puisi ini menciptakan suasana nostalgia dan kesedihan yang mendalam. Penyair merenungkan tentang sebuah kota lama yang kini dipenuhi oleh duka dan kehilangan. Ada cemas yang terasa akan kehilangan sesuatu yang berharga dari masa lalu, seperti kenangan, sejarah, dan identitas kota itu sendiri.

Jejak-Jejak Masa Lalu: Penyair menggambarkan adanya jejak-jejak masa lalu yang masih membekas di kota tersebut. Jejak ini mungkin mencakup peristiwa-peristiwa penting, nilai-nilai budaya, dan cerita-cerita yang membentuk identitas kota tersebut. Meskipun masa lalu telah membeku dan silsilah terlepas, jejak-jejak itu masih hadir dalam ingatan dan pengalaman kolektif.

Kabut Sejarah yang Mengabur: Puisi mencatat bahwa sejarah kota tersebut semakin kabur dan mengabur. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh waktu yang terus berjalan dan perubahan zaman yang terus menerus. Kabut sejarah menyiratkan bahwa cerita-cerita masa lalu semakin sulit untuk diingat atau dipahami dengan jelas.

Kehilangan Identitas: Penyair mengekspresikan rasa kehilangan identitas pribadi dalam konteks kota lama tersebut. Bahkan bayang-bayang dirinya sendiri terasa semakin samar di tengah aspal basah yang dingin, mencerminkan perasaan terpisah dari akar budaya dan sejarah kota tersebut.

Suasana Melankolis: Keseluruhan puisi menciptakan suasana melankolis yang menghantui. Penyair merenungkan tentang perubahan zaman dan hilangnya keaslian serta kehangatan yang mungkin pernah ada di kota tersebut. Ada kesedihan yang mendalam atas kehilangan yang tak tergantikan dari masa lalu.

Puisi "Pada Sebuah Kota Lama" mengajak pembaca untuk merenungkan tentang arti dan nilai dari masa lalu, sejarah, dan identitas suatu tempat. Dengan nada melankolis dan sentuhan nostalgia, puisi ini menggambarkan kehilangan yang dialami oleh sebuah kota tua yang tenggelam dalam kabut sejarah.

Gunoto Saparie
Puisi: Pada Sebuah Kota Lama
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.