Puisi: Perang (Karya Ook Nugroho)

Puisi “Perang” karya Ook Nugroho menggambarkan kehidupan manusia sebagai sebuah peperangan yang berlangsung setiap hari. Namun, perang yang ...
Perang

Setiap hari adalah peperangan 
Kita di medan tak bernama ini
Menembakkan peluru-peluru sunyi
Kepada lawan tiada dikenal
Wajah dan warna seragamnya
Tapi mereka ada di mana-mana
Memberondong kita tak hentinya
Dengan ketakutan, mungkin kematian
Di ujung setiap sekon mendarat
Musuh-musuh baru dengan paras pasi
Mereka bahkan muncul menembus
Tercurah tiada habisnya macam badai
Aneh, mereka seperti kita juga
Mengenakan rompi kelam kecemasan
Menghamburkan peluru-peluru hampa
Ke alamat langit yang nganga bisu sejauh ini
Dan nun di sana yang entah di mana
Seorang dengan misai dan jubah kumal
Mendaraskan mungkin bukan apa-apa
Mungkin kekosongan tak bernama lain lagi
Begitulah, setiap hari adalah peperangan
Kematian pun datang seperti warta berita
Datar hambar dan sebaris hanya
Jika seorang mendadak pergi
Yang lainnya mengangguk tanda tak paham
Lalu kita kembali menyuruk
Di medan ganas tak berberita ini
Menembak dengan lebih ceroboh
Musuh yang mungkin diri kita sendiri
Menghadang dengan seringai beku

2014

Sumber: Tempo (Minggu, 26 Juli 2015)

Analisis Puisi:

Puisi “Perang” karya Ook Nugroho menggambarkan kehidupan manusia sebagai sebuah peperangan yang berlangsung setiap hari. Namun, perang yang dimaksud dalam puisi ini bukan hanya perang dalam pengertian fisik, seperti pertempuran antarpasukan atau peperangan antarnegara. Lebih jauh, penyair menggambarkan peperangan sebagai simbol perjuangan manusia menghadapi ketakutan, kecemasan, kematian, ketidakpastian, bahkan dirinya sendiri.

Melalui penggunaan kata-kata seperti “medan tak bernama”, “peluru-peluru sunyi”, “musuh-musuh baru”, dan “rompi kelam kecemasan”, Ook Nugroho menghadirkan gambaran kehidupan yang penuh tekanan dan ancaman. Manusia seolah-olah berada dalam sebuah medan perang yang tidak diketahui secara pasti siapa lawannya dan kapan peperangan tersebut akan berakhir.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan dan ketakutan manusia dalam menjalani kehidupan yang penuh ketidakpastian. Hal tersebut terlihat jelas sejak baris pembuka:

“Setiap hari adalah peperangan”

Kalimat tersebut menjadi dasar pemaknaan keseluruhan puisi. Kehidupan sehari-hari dianalogikan sebagai perang karena manusia harus terus menghadapi berbagai persoalan, tekanan, kecemasan, kegagalan, dan kemungkinan kehilangan.

Musuh dalam puisi juga tidak digambarkan secara jelas. Penyair mengatakan:

“Kepada lawan tiada dikenal”

Hal ini menunjukkan bahwa ancaman yang dihadapi manusia sering kali tidak memiliki bentuk yang pasti. Musuh tersebut dapat berupa masalah kehidupan, rasa takut, kecemasan, tekanan sosial, maupun konflik yang berasal dari dalam diri sendiri.

Dengan demikian, puisi ini bercerita tentang manusia yang menjalani kehidupan dalam kondisi seperti berada di medan perang, menghadapi berbagai ancaman yang terus bermunculan tanpa mengetahui secara pasti siapa musuh sebenarnya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan manusia modern dapat menjadi sebuah peperangan psikologis. Manusia terus berhadapan dengan kecemasan dan ketakutan, tetapi sering kali tidak mengetahui sumber sebenarnya dari ketakutan tersebut.

Salah satu bagian penting terdapat pada bait:

“Aneh, mereka seperti kita juga
Mengenakan rompi kelam kecemasan
Menghamburkan peluru-peluru hampa”

Kata “mereka” dan “kita” pada bagian tersebut menarik untuk diperhatikan. Musuh ternyata memiliki kecemasan yang sama dengan manusia yang sedang menghadapinya. Artinya, orang-orang yang dianggap sebagai lawan sebenarnya juga merupakan manusia yang memiliki ketakutan, kegelisahan, dan ketidakpastian.

Makna yang lebih dalam muncul pada bagian akhir:

“Musuh yang mungkin diri kita sendiri”

Baris tersebut menunjukkan bahwa musuh terbesar manusia mungkin bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri. Ketakutan, kecemasan, pikiran negatif, ego, dan ketidakmampuan memahami keadaan dapat menjadi sumber konflik yang terus berlangsung dalam diri manusia.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan melalui puisi ini adalah bahwa manusia perlu menyadari sumber konflik yang terjadi dalam kehidupan. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan menganggap orang lain sebagai musuh.

Puisi ini juga mengajak pembaca untuk melihat bahwa setiap manusia memiliki ketakutan dan kecemasan masing-masing. Orang yang kita anggap sebagai lawan mungkin sebenarnya sedang mengalami peperangan yang sama di dalam dirinya.

Bagian:

“Musuh yang mungkin diri kita sendiri”

menjadi penegasan bahwa manusia perlu melakukan introspeksi. Sebelum menyalahkan pihak lain, seseorang perlu memahami dirinya sendiri, termasuk ketakutan, kecemasan, dan dorongan yang dapat membuatnya terus berada dalam konflik.

Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan mengenai ketidakpedulian terhadap kematian dan penderitaan. Ketika kematian hanya diterima sebagai “warta berita” yang datar dan hambar, manusia berisiko kehilangan kepekaan terhadap sesamanya.

Ook Nugroho
Puisi: Perang
Karya: Ook Nugroho

Biodata Ook Nugroho:
  • Ook Nugroho lahir pada tanggal 7 April 1960 di Jakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.