Puisi: Stasiun Gambir (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Stasiun Gambir” karya Gunoto Saparie menggambarkan suasana perpisahan yang penuh kesedihan, kehilangan, dan kerinduan. Stasiun menjadi latar ..
Stasiun Gambir

Maka berangkatlah kereta api
di malam hujan riwis itu
mengapakah ada mendung di parasmu?
mengapakah ada gerimis menderas di pipi?

aku pun tahu,  sia-sia melambaikan tangan
tak ada makna kenangan dan kehilangan
yang tertinggal hanya sepi, hanya sunyi
ketika kereta api bergerak pergi

maka berangkatlah aku sendiri
pulang kembali menuju ke semarang
membawa tangkai buah khuldi
stasiun gambir basah berlinang

aku pun menerka, siapakah bersenandung rawan
terpejam aku menyimak suara panggilan
merenungi tiap peristiwa dan kejadian
tetapi selalu, sayang, rinduku tertahan.

Analisis Puisi:

Puisi “Stasiun Gambir” karya Gunoto Saparie menggambarkan suasana perpisahan yang penuh kesedihan, kehilangan, dan kerinduan. Stasiun menjadi latar penting yang mempertemukan keberangkatan kereta dengan perasaan seseorang yang harus meninggalkan atau ditinggalkan oleh orang yang dicintainya.

Melalui gambaran malam hujan, gerimis, kereta api yang berangkat, stasiun yang basah, serta rindu yang tertahan, penyair menghadirkan pengalaman perpisahan yang tidak sederhana. Keberangkatan kereta bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi menjadi simbol berlalunya sebuah hubungan, kenangan, atau kesempatan untuk bersama.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perpisahan, kehilangan, dan kerinduan yang tertahan. Hal tersebut tampak sejak bait pertama ketika kereta api mulai berangkat:

“Maka berangkatlah kereta api
di malam hujan riwis itu”

Keberangkatan kereta menjadi titik awal perpisahan. Suasana hujan memperkuat kesan sedih dan muram. Penyair kemudian menggambarkan seseorang yang ditinggalkan melalui pertanyaan:

“mengapakah ada mendung di parasmu?”
“mengapakah ada gerimis menderas di pipi?”

“Mendung” dan “gerimis” tidak hanya menggambarkan cuaca, tetapi juga dapat dimaknai sebagai gambaran kesedihan yang terpancar dari wajah seseorang.

Dengan demikian, tema puisi tidak hanya mengenai perjalanan kereta dari satu tempat ke tempat lain. Di balik perjalanan tersebut terdapat perjalanan emosional berupa kehilangan seseorang yang berarti dan kerinduan yang belum terselesaikan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa perpisahan dapat meninggalkan kesunyian dan kerinduan yang mendalam, sementara tidak semua perasaan dapat dengan mudah diungkapkan atau diselesaikan.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa manusia sering kali baru menyadari kuatnya sebuah ikatan ketika harus berpisah. Keberangkatan seseorang dapat membuat kenangan menjadi semakin kuat.

Selain itu, puisi mengingatkan bahwa perjalanan hidup tidak selalu dapat dihentikan sesuai keinginan. Ada saat ketika seseorang harus menerima keberangkatan, kehilangan, dan jarak.

Pesan lainnya adalah pentingnya memahami dan menghargai hubungan selama masih memiliki kesempatan. Sebab, ketika perpisahan telah terjadi, yang tersisa mungkin hanyalah kenangan dan rindu.

"Foto Gunoto Saparie"
Puisi: Stasiun Gambir
Karya: Gunoto Saparie

Gunoto Saparie. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  dan Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018).


Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), dan Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta.  Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.