Puisi: Taman Seroja (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Taman Seroja” karya Wayan Jengki Sunarta memberikan pesan bahwa tidak semua hal dalam kehidupan harus dijelaskan secara rasional. Ada ...
Taman Seroja

sejauh itu kau tabur
beribu cahaya
yang bagai kunangkunang
menyeret diri selarut malam
saat kami menuju kedamaianmu

jangan lontarkan kata
apa makna kami bersama
selalu membujuk tanya untuk
jawab yang jenuh kami jebak

kami jadi bagian dari malam
sebab kami lahir dari pagi
harum embun
yang memeram melodi sendiri
seperti kau peram sunyimu sendiri

jangan luncurkan jerit
yang seperti siluet burung malam
ke tengah raut demi raut wajah
yang penyap sebelum kami ada

pada paras malam bergerimis
bulan seperti menangis
sebentuk tangan mungil terulur
ke dalam miris udara
ingin raih wajah kami
yang telah kabut

kami bebaskan diri
dari riuh hidup sehari hari
masuk ke celah kelopak seroja

kamilah malam
kamilah kalam
kebebasan kami
seribu seroja
di telaga

1998

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Taman Seroja” karya Wayan Jengki Sunarta menghadirkan dunia puitik yang penuh simbol, terutama melalui gambaran malam, cahaya, embun, burung, bulan, telaga, dan bunga seroja. Puisi ini tidak menyampaikan cerita secara langsung, melainkan membangun sebuah ruang imajinatif yang memungkinkan pembaca menafsirkan makna di balik setiap gambaran.

Penggunaan kata “kami” secara berulang menjadi salah satu ciri penting dalam puisi ini. “Kami” seolah-olah merupakan sekelompok sosok yang memilih meninggalkan “riuh hidup sehari-hari” untuk memasuki ruang yang lebih sunyi dan bebas.

Di bagian akhir, perjalanan tersebut mencapai sebuah gambaran simbolis:

“kami bebaskan diri
dari riuh hidup sehari hari
masuk ke celah kelopak seroja”

Kemudian puisi ditutup dengan:

“kamilah malam
kamilah kalam
kebebasan kami
seribu seroja
di telaga”

Penutup tersebut memberikan kesan bahwa kebebasan, malam, kata, dan seroja telah melebur menjadi satu dunia simbolis.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian kedamaian, kebebasan, dan pelepasan diri dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

Tema tersebut terlihat melalui perjalanan menuju suatu ruang yang digambarkan sebagai kedamaian. Pada awal puisi, terdapat gambaran cahaya yang berjumlah sangat banyak:

“sejauh itu kau tabur
beribu cahaya”

Cahaya tersebut menjadi bagian dari perjalanan “kami” menuju kedamaian.

Tema kebebasan semakin jelas pada bagian:

“kami bebaskan diri
dari riuh hidup sehari hari”

Frasa “bebaskan diri” menjadi salah satu kunci untuk memahami puisi. Kehidupan sehari-hari digambarkan sebagai sesuatu yang riuh, sementara taman seroja, malam, dan telaga menjadi ruang yang menawarkan ketenangan.

Tema tersebut juga berkaitan dengan pencarian ruang batin. Kebebasan dalam puisi bukan hanya kebebasan secara fisik, tetapi juga kebebasan dari tekanan, kebisingan, pertanyaan, dan berbagai persoalan kehidupan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini dapat dipahami sebagai ajakan untuk menemukan ruang kedamaian di tengah kehidupan yang penuh kebisingan.

Manusia sering kali terjebak dalam rutinitas, tuntutan, pertanyaan, dan persoalan sehari-hari. Puisi ini menawarkan gagasan tentang pentingnya melepaskan diri sejenak dari keadaan tersebut.

Pesan tersebut terlihat jelas melalui:

“kami bebaskan diri
dari riuh hidup sehari hari”

Puisi juga memberikan pesan bahwa tidak semua hal dalam kehidupan harus dijelaskan secara rasional. Ada pengalaman, hubungan, perasaan, dan kedamaian yang mungkin hanya dapat dirasakan.

Hal tersebut tercermin dalam:

“jangan lontarkan kata
apa makna kami bersama”

Seolah-olah penyair ingin mengatakan bahwa pengalaman batin tidak selalu membutuhkan penjelasan.

Selain itu, puisi dapat dibaca sebagai penghargaan terhadap sastra dan bahasa. Kehadiran kata “kalam” di akhir puisi menunjukkan bahwa kata-kata dapat menjadi salah satu jalan untuk mencapai kebebasan dan kedamaian batin.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Taman Seroja
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.