Puisi: Terbuang-buang (Karya A.A. Navis)

Puisi "Terbuang-buang" karya A.A. Navis menyajikan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup, keputusasaan, dan kegagalan.
Terbuang-buang

Menyusuri jalan hidup ini
yang gantung bergantung dengan siapa
tiada yang lebih disebalkan
jika nanti menanti yang tak pasti
tanpa keyakinan hilangkan kendala
untuk menjadikan diri berarti.

Jika detak dan detik terus berlalu
dalam liang hampa tak terduga
lebih sebal bila tahu terlambat
segala harapan lumat setelah terbangun kuat
segala yang jadi hak pun lewat
sia-sia punah segala amanat.

18 Agustus 1950

Sumber: Dermaga dengan Empat Sekoci (I.N.S., 1975)

Analisis Puisi:

Puisi "Terbuang-buang" karya A.A. Navis adalah sebuah karya sastra yang menyajikan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup, keputusasaan, dan kegagalan. Melalui penggunaan bahasa yang indah, Navis menggambarkan dinamika kehidupan yang penuh dengan tantangan dan kegelisahan.

Dinamika Jalan Hidup: Puisi dimulai dengan gambaran tentang menyusuri jalan hidup yang gantung bergantung pada hubungan dengan orang lain. Navis menggambarkan bahwa hidup dapat terpengaruh oleh siapa yang ada di sekitarnya. Dalam konteks ini, tidak ada yang lebih disebalkan daripada menanti yang tidak pasti tanpa keyakinan yang memadai untuk mengatasi kendala dan menjadikan hidup bermakna.

Detak dan Detik yang Terus Berlalu: Penyair melanjutkan dengan merinci penderitaan hidup dalam bait berikutnya. Detak dan detik waktu terus berlalu dalam "liang hampa tak terduga." Ini menciptakan gambaran ketidakpastian dan kekosongan dalam perjalanan hidup, di mana segala harapan dapat hancur ketika menyadari bahwa waktu terus berjalan tanpa memberikan kepastian.

Keterlambatan dan Kegagalan: Penyair menyoroti rasa kekecewaan yang mendalam ketika menyadari bahwa segala harapan hancur setelah terbangun dengan kuat. Keterlambatan dalam meraih sesuatu yang diinginkan bisa mengakibatkan kegagalan dan kehilangan peluang. Navis menciptakan perasaan kecewa yang dalam ketika menyatakan bahwa segala yang seharusnya menjadi hak seseorang lewat begitu saja, dan semua amanat menjadi sia-sia.

Puisi "Terbuang-buang" menggambarkan penderitaan dan keputusasaan dalam menghadapi keterlambatan, kegagalan, dan hilangnya harapan. Penyair memberikan pesan bahwa hidup yang terbuang-buang terjadi ketika tidak ada keyakinan dan tindakan yang memadai untuk menghadapi tantangan. Puisi ini menjadi panggilan untuk merenung tentang makna hidup dan perlunya keyakinan serta tindakan yang berarti agar hidup tidak sia-sia.

A.A. Navis
Puisi: Terbuang-buang
Karya: A.A. Navis

Biodata A.A. Navis:
  • A.A. Navis (Haji Ali Akbar Navis) lahir di Kampung Jawa, Padang Panjang, Sumatra Barat, pada tanggal 17 November 1924.
  • A.A. Navis meninggal dunia di Padang, Sumatra Barat, pada tanggal 22 Maret 2003 (pada usia 78 tahun).
  • A.A. Navis adalah salah satu sastrawan angkatan 1950–1960-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.