Gorengan Gorengan ...
Penjual berteriak gorengan ... gorengan!
Pembeli telah paham penjual gorengan yang lidahnya kan termanjakan
Soal rasa tiada lawan
Apalagi penyedap telah menjadi kawan
Sekejap gorengan diserbu penikmat kuliner kekinian
Fantasi rasa terbarukan
Mengisi perut-perut yang tak sabar menunggu decak lidah menelan
Hingga dahaga pun terobati dengan fantasi minuman pinggir jalan
Tukang gorengan kekinian lebih tahu kondisi
Ayo cuan, cari ... cari
Lupa sudah hal remeh-temeh berganti basa-basi
Stand semakin ramai pembeli
Penikmat makanan cepat saji
Akibat ke depan tanggung sendiri
Babak belur gula darah, sakit sendi
Gorengan tak kenal kata berhenti
Selama penikmat terus mengantri
Bahkan ... pembuatnya ikut terindikasi
Sebab akibat yang lama tak terdeteksi
Cuan hasil manipulasi
Berimbas payahnya harga diri
Gorengan ... gorengan
Patah tumbuh hilang berganti
Meski risiko menciutkan hati
Apalah daya nafsu lebih besar mengemulsi
Mengemas hari
Rakyat jelata selalu yang teruap dampak nikmat
Meski di depan mata tampak sebab akibat
Namun, gorengan membudaya laksana sahabat
Sejatinya pemicu masalah hebat
Gorengan ... gorengan
Bahkan semua sendi kehidupan digoreng
Kering
Genting
Bahkan terlalu tak penting
Hingga, suatu masa ...
Pembuatnya menyerah
Pasrah
Dia sendiri menjadi korban salah kaprah
Fajar Indah, 21/10/2026
Analisis Puisi:
Puisi "Gorengan Gorengan" karya Ummi Sulis bukan sekadar bercerita tentang makanan yang dijual di pinggir jalan. Di balik kata gorengan, penyair menyampaikan sindiran terhadap berbagai persoalan kehidupan, mulai dari perilaku masyarakat yang mudah tergoda kenikmatan, kepentingan mencari keuntungan, hingga praktik manipulasi yang merugikan banyak pihak. Gorengan dalam puisi ini menjadi simbol sesuatu yang sengaja diolah, dikemas, dan ditawarkan agar menarik perhatian, meskipun menyimpan risiko di baliknya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah sindiran sosial terhadap budaya manipulasi, keserakahan, dan dampak buruknya dalam kehidupan masyarakat. Penyair menggunakan gorengan sebagai metafora untuk menggambarkan sesuatu yang tampak menarik dan menguntungkan, tetapi sesungguhnya dapat membawa masalah. Sindiran tersebut semakin kuat ketika kata gorengan tidak lagi terbatas pada makanan, melainkan meluas ke berbagai sendi kehidupan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini terletak pada penggunaan kata gorengan sebagai bentuk sindiran, bukan makanan dalam pengertian sebenarnya. Ungkapan “semua sendi kehidupan digoreng” menunjukkan bahwa praktik manipulasi dapat merambah berbagai bidang kehidupan.
Puisi ini juga menyindir masyarakat yang sering kali lebih mengutamakan kenikmatan sesaat daripada mempertimbangkan akibat jangka panjang. Sementara itu, pihak yang mengejar keuntungan dapat mengabaikan dampak perbuatannya terhadap orang lain.
Baris “Dia sendiri menjadi korban salah kaprah” mempertegas ironi tersebut. Seseorang yang ikut menciptakan atau mempertahankan praktik bermasalah pada akhirnya bisa terkena dampaknya sendiri. Dengan demikian, puisi ini menggambarkan bagaimana manipulasi dan keserakahan dapat membentuk lingkaran masalah yang sulit diputus.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan utama puisi ini adalah agar masyarakat tidak mudah tergoda oleh sesuatu yang tampak menguntungkan atau menyenangkan tanpa mempertimbangkan akibatnya. Kita perlu bersikap kritis terhadap informasi, kepentingan, dan berbagai praktik yang berpotensi menyembunyikan manipulasi.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa mengejar keuntungan dengan mengabaikan etika dapat merugikan orang lain sekaligus menghancurkan diri sendiri. Oleh karena itu, kejujuran, tanggung jawab, dan kesadaran terhadap konsekuensi harus menjadi landasan dalam bertindak. Jangan sampai sesuatu yang awalnya dianggap menguntungkan justru berubah menjadi sumber kehancuran.
Karya: Ummi Sulis
Biodata Ummi Sulis:
- Ummi Sulis merupakan Guru SDN 3 Pulau Besar yang aktif di dunia tulis-menulis semenjak 2019.
