Puisi: Kuala Lumpur-Singapura (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Kuala Lumpur-Singapura” karya Gunoto Saparie mengingatkan bahwa kenangan memiliki arti penting dalam perjalanan kehidupan. Sesuatu yang ...
Kuala Lumpur-Singapura

Di lebuh lempang raya
antara kuala lumpur-singapura
bus pun terus cepat melaju
di balik kaca jendela: malaikatkah itu?

Ada namaku dan namamu
tergores di pohon kelapa sawit itu
namun bus pun terus saja menderu
melintasi jembatan di atas laut biru

Di lebuh lempang raya
antara kuala lumpur-singapura
aku pun menangkap lanskap di luar
melayu modern bergegas tak terkejar

Analisis Puisi:

Puisi “Kuala Lumpur-Singapura” karya Gunoto Saparie menggambarkan perjalanan melintasi jalur antara Kuala Lumpur dan Singapura. Namun, puisi ini tidak sekadar bercerita tentang perjalanan menggunakan bus. Di balik gambaran jalan raya, perkebunan kelapa sawit, jembatan, laut biru, dan kehidupan masyarakat Melayu modern, terdapat kesan perenungan tentang perjalanan, kenangan, serta perubahan zaman.

Penyair menggunakan pemandangan yang dilihat dari balik kaca jendela bus untuk membangun pengalaman yang terasa singkat sekaligus penuh makna. Perjalanan fisik tersebut seolah menjadi perjalanan batin bagi penyair.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan dan perenungan terhadap kehidupan serta perubahan zaman. Perjalanan antara Kuala Lumpur dan Singapura menjadi latar utama puisi. Penyair berada di dalam bus yang terus melaju melewati jalan raya, perkebunan kelapa sawit, jembatan, dan laut. Akan tetapi, perjalanan tersebut juga menghadirkan kenangan personal, terutama melalui larik:

“Ada namaku dan namamu
tergores di pohon kelapa sawit itu”

Larik tersebut menunjukkan adanya kenangan atau hubungan antara “aku” dan “namamu”. Dengan demikian, perjalanan geografis yang dilakukan penyair juga berkaitan dengan perjalanan emosional.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini dapat dilihat dari hubungan antara perjalanan, kenangan, dan perubahan kehidupan.

Bus yang “terus cepat melaju” dan “terus saja menderu” dapat dimaknai sebagai simbol perjalanan waktu. Kehidupan tidak berhenti untuk menunggu seseorang. Apa yang berada di depan mata akan segera menjadi masa lalu.

Sementara itu, tulisan nama “aku” dan “namamu” pada pohon kelapa sawit dapat menjadi simbol kenangan yang ingin diabadikan. Di tengah perjalanan yang cepat, terdapat sesuatu yang ingin tetap dikenang.

Larik:

“melayu modern bergegas tak terkejar”

juga memiliki makna yang lebih luas. Larik tersebut dapat ditafsirkan sebagai gambaran masyarakat Melayu yang sedang bergerak mengikuti perkembangan modernitas. Kehidupan menjadi cepat, dinamis, dan sulit untuk diikuti sepenuhnya.

Dengan demikian, puisi ini tidak hanya menggambarkan perjalanan antarnegara, tetapi juga memperlihatkan pertemuan antara kenangan pribadi, perjalanan waktu, dan modernitas.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa manusia perlu menyadari bahwa kehidupan dan waktu terus bergerak. Dalam perjalanan hidup, seseorang akan menemukan berbagai pemandangan, pengalaman, dan kenangan yang mungkin hanya dapat dinikmati sesaat.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa kenangan memiliki arti penting dalam perjalanan kehidupan. Sesuatu yang sederhana, seperti nama yang tergores pada pohon, dapat menjadi tanda dari sebuah hubungan atau pengalaman yang ingin tetap diingat.

Selain itu, puisi tersebut dapat dimaknai sebagai refleksi terhadap perkembangan masyarakat Melayu yang semakin modern. Modernitas membawa perubahan dan kecepatan dalam kehidupan, sehingga manusia perlu mampu mengikuti perubahan tanpa kehilangan ingatan terhadap masa lalu.

"Foto Gunoto Saparie"
Puisi: Kuala Lumpur-Singapura
Karya: Gunoto Saparie

Gunoto Saparie. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  dan Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018).


Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), dan Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta.  Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.