Nafkah
Melalui apa kuanalogikan cinta kita, istriku? Melalui suara keluh lelah, kacaunya dunia, setelah menenun rezeki mungil.
Semangkuk bubur ayam kuah kuning, membegah lambung, menyeruak kriuk krupuk, mengaduk sambal ke dalam mangkukmu.
Mataku cangkir menampung airmatamu, bagai kopi melukis hitamnya.
Batinku laut mengombak sepimu, bagai kapal menentang cuaca.
Waduh, istriku, siram mataku dengan airmatamu, penuhi jiwaku dengan cemburumu, biar lelah tubuhku candu, biar beringsut uang bulanan teratur.
Bandung, September 2026
Analisis Puisi:
Puisi “Nafkah” karya Juliyanthropus Javanicus menghadirkan gambaran cinta dalam kehidupan rumah tangga melalui sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian: kelelahan bekerja, makanan sederhana, air mata, kecemburuan, dan uang bulanan.
Alih-alih menggambarkan cinta melalui kata-kata romantis yang megah, puisi ini justru menempatkan cinta pada ruang domestik yang sederhana. Cinta antara suami dan istri hadir melalui usaha memenuhi kebutuhan keluarga. Rasa lelah setelah bekerja, semangkuk bubur ayam, perhatian terhadap air mata pasangan, hingga uang bulanan menjadi bahasa kasih yang digunakan penyair.
Judul “Nafkah” menjadi kata kunci penting dalam memahami keseluruhan puisi. Nafkah tidak semata-mata dipahami sebagai kewajiban ekonomi seorang suami kepada keluarganya, tetapi juga sebagai bentuk pengorbanan, tanggung jawab, dan ekspresi cinta.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta dan tanggung jawab dalam kehidupan rumah tangga. Penyair tidak menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang hanya hadir dalam kata-kata romantis. Cinta justru diwujudkan melalui perjuangan memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini terlihat sejak bait pertama ketika penyair menghubungkan cinta dengan “keluh lelah” setelah bekerja dan “menenun rezeki mungil”.
Ungkapan “rezeki mungil” menunjukkan bahwa penghasilan yang diperoleh mungkin tidak besar. Namun, ukuran cinta dalam puisi ini tidak ditentukan oleh banyaknya materi. Nilai cinta justru terlihat dari usaha untuk tetap menyediakan nafkah meskipun rezeki yang didapat terbatas.
Tema tersebut kemudian diperkuat melalui gambaran makanan sederhana:
“Semangkuk bubur ayam kuah kuning...”
Bubur ayam menjadi bagian dari kehidupan rumah tangga yang sederhana. Makanan tersebut bukan sekadar objek yang hadir dalam puisi, tetapi menjadi simbol keakraban dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Dengan demikian, tema puisi ini dapat diperluas menjadi cinta yang diwujudkan melalui kerja, pengorbanan, perhatian, dan tanggung jawab ekonomi dalam rumah tangga.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa nafkah dapat menjadi salah satu bahasa cinta dalam rumah tangga.
Cinta tidak selalu harus dibuktikan melalui ungkapan verbal. Dalam kehidupan sehari-hari, cinta dapat hadir melalui tindakan konkret: bekerja, menyediakan makanan, memenuhi kebutuhan pasangan, dan berusaha menjaga kestabilan keluarga.
Frasa:
“setelah menenun rezeki mungil”
memiliki makna yang cukup kuat. Kata “menenun” biasanya berkaitan dengan proses menyusun sesuatu secara perlahan dan telaten. Ketika dipasangkan dengan “rezeki”, kata tersebut menggambarkan usaha yang dilakukan sedikit demi sedikit untuk menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan bagi kehidupan bersama.
“Rezeki mungil” juga mengandung kesan bahwa penghasilan yang diperoleh tidak berlebihan. Namun, kecilnya rezeki tidak membuatnya kehilangan nilai.
Bahkan, semangkuk bubur ayam dalam puisi dapat dipahami sebagai bentuk sederhana dari hasil perjuangan tersebut.
Makna tersirat lainnya terdapat pada hubungan antara kelelahan dan cinta. Dalam puisi ini, lelah bukan semata-mata penderitaan. Lelah memiliki nilai karena ada seseorang yang menjadi alasan untuk menjalaninya.
Dengan kata lain, puisi ini menyiratkan bahwa pengorbanan yang dilakukan demi orang yang dicintai dapat mengubah cara seseorang memandang rasa lelah.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa cinta dalam rumah tangga perlu diwujudkan melalui tanggung jawab, pengorbanan, perhatian, dan tindakan nyata.
Puisi ini memperlihatkan bahwa memenuhi kebutuhan pasangan merupakan salah satu bentuk kasih sayang. Nafkah bukan hanya persoalan angka atau jumlah uang yang diberikan, tetapi juga berkaitan dengan proses dan pengorbanan di baliknya.
Seorang suami yang bekerja hingga lelah tidak hanya sedang mencari penghasilan. Dalam konteks puisi, ia juga sedang mengupayakan keberlangsungan kehidupan bersama.
Pesan lainnya adalah bahwa cinta tidak selalu hadir dalam keadaan ideal. Tangisan dan kecemburuan pun menjadi bagian dari hubungan yang manusiawi.
Hal tersebut terlihat pada:
“penuhi jiwaku dengan cemburumu”
Penyair tidak menggambarkan hubungan yang sepenuhnya sempurna. Ada emosi yang rumit, tetapi emosi tersebut justru menunjukkan keterikatan antara dua orang yang saling memiliki perhatian.
Puisi ini menyampaikan bahwa kehidupan rumah tangga dibangun bukan hanya oleh perasaan cinta, tetapi juga oleh kesediaan untuk bekerja, bertahan, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Karya: Juliyanthropus Javanicus
Biodata Juliyanthropus Javanicus:
Juliyanthropus Javanicus, bernama asli Juliyanto Sugihartono, lahir di Cimahi, 1 Juni 1996. Ia bekerja sebagai digital marketer dan menulis puisi. Di luar menulis, ia senang bermain aquascape dan merawat tanaman aroid. Penulis bisa disapa di Instagram @juliyantosugihartono
