Puisi: Pasrah (Karya A. Munandar)

Puisi “Pasrah” karya A. Munandar menggambarkan seseorang yang memilih menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada sosok yang dicintainya.
Pasrah

Sekali ini, biarkan aku
meleleh di bibirmu,
bersembunyi di matamu,
berlutut di perasaanmu.

2017

Analisis Puisi:

Puisi “Pasrah” karya A. Munandar menggambarkan seseorang yang memilih menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada sosok yang dicintainya. Meskipun singkat, setiap larik memiliki hubungan yang kuat. Kata-kata seperti meleleh, bersembunyi, dan berlutut tidak hanya dapat dipahami secara harfiah, tetapi menjadi simbol dari keadaan batin seseorang yang sedang jatuh cinta dan rela menanggalkan pertahanannya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penyerahan diri dalam cinta. Penyair menggambarkan seseorang yang tidak lagi ingin melawan perasaan. Ia memilih untuk melebur, bersembunyi, dan berlutut di hadapan perasaan orang yang dicintainya. Sikap tersebut menunjukkan adanya kerelaan untuk memberikan ruang yang sangat besar kepada seseorang dalam kehidupannya.

Kata “Sekali ini” pada awal puisi juga memberikan kesan bahwa penyerahan tersebut merupakan sebuah keputusan khusus. Ada kemungkinan sebelumnya penyair memiliki pertahanan atau keraguan, tetapi pada akhirnya ia memilih untuk melepaskannya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini terletak pada penggunaan kata-kata yang tidak dimaksudkan secara literal.

Tidak mungkin seseorang benar-benar meleleh di bibir, bersembunyi di mata, atau berlutut di dalam perasaan. Ketiga ungkapan tersebut merupakan gambaran simbolis mengenai keadaan batin.

“Meleleh di bibirmu” dapat dimaknai sebagai keinginan untuk melebur dalam kata-kata, senyuman, ciuman, atau kelembutan orang yang dicintai.

“Bersembunyi di matamu” dapat dimaknai sebagai keinginan untuk selalu berada dalam pandangan dan perhatian orang yang dicintai. Mata menjadi simbol tempat seseorang dapat melihat, mengenali, dan menyimpan perasaan.

Sementara itu, “berlutut di perasaanmu” memiliki makna yang lebih kuat. Berlutut merupakan simbol ketundukan dan kerendahan hati. Dalam konteks puisi, ungkapan tersebut menunjukkan bahwa penyair bersedia tunduk kepada perasaan cinta yang sedang dialaminya.

Jadi, makna tersirat keseluruhan puisi adalah kesediaan untuk menyerahkan ego, pertahanan, dan kendali diri kepada cinta yang dirasakan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa cinta terkadang membuat seseorang bersedia menurunkan ego dan membuka dirinya sepenuhnya kepada orang yang dicintai.

Puisi ini menunjukkan bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki atau menguasai. Dalam sudut pandang puisi, mencintai justru dapat berarti bersedia hadir, melebur, dan menyerahkan sebagian diri kepada seseorang yang dianggap berarti.

Namun, kata pasrah juga dapat dibaca sebagai pengingat bahwa penyerahan diri dalam cinta sebaiknya tetap disertai kesadaran terhadap diri sendiri. Cinta dapat membuat seseorang membuka hati, tetapi tidak berarti harus kehilangan harga diri.

A. Munandar
Puisi: Pasrah
Karya: A. Munandar

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.