Analisis Puisi:
Puisi “Penggembala” karya Gunoto Saparie menggambarkan keadaan seorang penggembala yang menghadapi alam yang kering dan suasana yang penuh kesedihan. Melalui gambaran sawah kering, rerumputan yang hilang, langit yang murung, serta bunyi seruling yang membawa duka, penyair tidak hanya menggambarkan keadaan alam, tetapi juga menyampaikan keadaan batin manusia yang sedang mengalami kesulitan dan kehilangan arah.
Puisi ini terdiri atas dua bait. Bait pertama menggambarkan perjalanan dan kelelahan seorang penggembala di tengah musim kemarau. Sementara itu, bait kedua semakin memperkuat kesan kesedihan melalui penggambaran langit, tembang, seruling, kabut, dan duka.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesedihan, kesulitan hidup, dan kehilangan arah di tengah keadaan yang serba sulit. Hal tersebut terlihat sejak awal puisi melalui larik:
“di sawah kering musim kemarau”
Sawah yang kering menjadi simbol keadaan yang tidak lagi memberikan kehidupan atau harapan sebagaimana mestinya. Penggembala juga digambarkan kehilangan sumber makanan bagi hewan ternaknya:
“penggembala kehilangan hijau rerumputan”
Kondisi alam yang berubah kemudian berpengaruh terhadap kehidupan penggembala. Ia harus berjalan dalam keadaan lelah hingga senja, bahkan pada akhirnya masih harus menghadapi ketidakpastian:
“sebelum akhirnya tahu, ke manakah arah angin”
Dengan demikian, puisi ini bercerita tentang seseorang yang menghadapi kesulitan akibat perubahan alam, sekaligus menggambarkan pergulatan batin seseorang yang sedang mencari arah dalam kehidupannya.
Makna Tersirat
Makna Tersirat dalam puisi ini tidak hanya berkaitan dengan seorang penggembala dan musim kemarau. Penggembala dapat dimaknai sebagai gambaran manusia secara umum, sedangkan perjalanan mencari arah dapat menjadi simbol perjalanan hidup.
Larik:
“sebelum akhirnya tahu, ke manakah arah angin”
dapat ditafsirkan sebagai pertanyaan tentang arah dan tujuan. Angin yang tidak mudah diketahui arahnya menjadi lambang ketidakpastian. Seseorang dapat berusaha dan berjalan sejauh mungkin, tetapi belum tentu mengetahui ke mana kehidupannya akan membawa dirinya.
Sementara itu, “sawah kering” dan “kehilangan hijau rerumputan” dapat dimaknai sebagai keadaan ketika sumber penghidupan, harapan, atau kebahagiaan semakin berkurang.
Pada bait kedua, kesedihan tersebut semakin kuat. Langit digambarkan “murung”, tembang terdengar menyayat, dan kabut tetap bertahan. Semua unsur tersebut dapat dibaca sebagai gambaran suasana batin yang sedang diliputi kesedihan dan ketidakpastian.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini dapat ditafsirkan bahwa manusia harus mampu menghadapi kesulitan dan ketidakpastian kehidupan.
Kehidupan tidak selalu berada dalam keadaan yang subur dan mudah. Sebagaimana penggembala yang harus menghadapi sawah kering dan hilangnya rerumputan, manusia juga dapat menghadapi masa-masa sulit yang berada di luar kendalinya.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa dalam menghadapi kesulitan, manusia sering kali harus mencari arah dan menentukan langkah meskipun keadaan belum memberikan kepastian.
Selain itu, puisi tersebut dapat mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap hubungan antara manusia dan alam. Kekeringan tidak hanya mengubah keadaan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan dan kondisi batin manusia.
Karya: Gunoto Saparie
Biodata Gunoto Saparie:
Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).
Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.
Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).
Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
