Puisi: Upacara Lingga (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Upacara Lingga” karya Wayan Jengki Sunarta menggunakan simbol-simbol religius, alam, tubuh, dan hasrat untuk membangun sebuah pengalaman ...
Upacara Lingga

bulan menjerit lirih
gumpalan awan pecah
di lingkar lingga
membasuh rumah siput
yang lunak dan basah

irama suci datang membandang
memenuhi parit parit yang kejang
dan susut ke dalam darah
kau menyeru nama nama dewa
di reranting pohon ara
berpesta daging gurih
wangi ratus dan juga birahi

aku hanya punya benih dalam darah
yang menyanyi saat kau tiba
yang meratap saat kau tiada
sebab curah air matamu
pada hamparan kebun anggur
hausku adalah siksa terakhir
sebelum akhirat

2000

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Upacara Lingga” karya Wayan Jengki Sunarta menggunakan simbol-simbol religius, alam, tubuh, dan hasrat untuk membangun sebuah pengalaman puitis yang penuh misteri. Penyair tidak menyampaikan gagasan secara langsung, melainkan melalui rangkaian metafora seperti bulan, lingga, rumah siput, darah, pohon ara, daging, anggur, dan akhirat.

Tema

Tema utama puisi ini berkaitan dengan hasrat, spiritualitas, kehidupan, dan kerinduan manusia terhadap sesuatu yang dianggap sakral.

Kata “lingga” sendiri menjadi simbol penting dalam puisi. Dalam konteks kebudayaan Hindu, lingga berkaitan dengan simbol kesuburan dan aspek maskulin dalam pemujaan Siwa. Kehadiran simbol tersebut kemudian dipadukan dengan berbagai gambaran tentang tubuh, darah, benih, air mata, birahi, dan kehidupan.

Dengan demikian, puisi ini dapat dipahami sebagai karya yang bercerita tentang pertemuan antara dorongan jasmaniah dan pengalaman spiritual. Hasrat tidak semata-mata digambarkan sebagai sesuatu yang bersifat fisik, tetapi juga sebagai kekuatan yang berhubungan dengan kehidupan, kerinduan, penderitaan, dan pencarian makna.

Hal tersebut terlihat jelas pada larik:

“aku hanya punya benih dalam darah
yang menyanyi saat kau tiba
yang meratap saat kau tiada”

“Benih dalam darah” dapat ditafsirkan sebagai simbol kehidupan, dorongan untuk mencipta, atau hasrat yang berada sangat dalam di dalam diri manusia.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini dapat ditemukan melalui penggunaan simbol-simbol yang tidak selalu memiliki arti literal.

Salah satu simbol paling kuat adalah “lingga”. Lingga dapat dibaca sebagai lambang penciptaan, kesuburan, energi kehidupan, sekaligus hubungan antara manusia dan sesuatu yang sakral. Penyair kemudian menghubungkan simbol tersebut dengan “benih”, “darah”, “air mata”, “kebun anggur”, dan “akhirat”.

Pada bagian:

“kau menyeru nama nama dewa
di reranting pohon ara
berpesta daging gurih
wangi ratus dan juga birahi”

terdapat percampuran antara suasana ritual keagamaan dan unsur jasmaniah. “Nama-nama dewa” menunjukkan dimensi spiritual, sementara “daging”, “wangi ratus”, dan “birahi” menghadirkan dimensi tubuh dan hasrat.

Perpaduan tersebut seolah menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak selalu dapat dipisahkan secara tegas antara yang sakral dan yang profan, antara spiritualitas dan tubuh, serta antara kesucian dan hasrat.

Pada bagian akhir, makna puisi menjadi semakin eksistensial:

“hausku adalah siksa terakhir
sebelum akhirat”

“Haus” dapat dimaknai secara literal sebagai kebutuhan terhadap air, tetapi dalam konteks keseluruhan puisi, haus juga dapat menjadi simbol kerinduan yang tidak pernah selesai. Manusia memiliki keinginan, tetapi keinginan tersebut justru dapat menjadi sumber penderitaan sebelum akhirnya berhadapan dengan kematian atau kehidupan setelah mati.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini tidak dituliskan secara langsung. Pembaca perlu menarik kesimpulan dari hubungan antarsimbol yang digunakan penyair.

Salah satu pesan yang dapat ditafsirkan adalah bahwa kehidupan manusia selalu berada dalam tarik-menarik antara hasrat, cinta, spiritualitas, kelahiran, kehilangan, dan kematian.

Hasrat dapat menjadi sumber kehidupan sekaligus sumber penderitaan. Hal tersebut tercermin dari ungkapan:

“aku hanya punya benih dalam darah”

yang kemudian diikuti dengan:

“hausku adalah siksa terakhir
sebelum akhirat”

Puisi ini juga dapat mengajak pembaca untuk melihat bahwa manusia memiliki kerinduan terhadap sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Kerinduan tersebut dapat diwujudkan melalui cinta, hubungan dengan alam, ritual keagamaan, maupun pencarian terhadap kehidupan setelah kematian.

Dengan kata lain, puisi ini tidak sekadar berbicara mengenai hubungan tubuh dan hasrat, tetapi juga mengenai hakikat manusia yang selalu menginginkan, mencari, kehilangan, dan pada akhirnya menghadapi batas kehidupan.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Upacara Lingga
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.