Puisi M. Balfas

Puisi: Jangan Aku Seorang (Karya M. Balfas)

Jangan Aku Seorang Kalau kau mau Jangan tiup suling atau pukul tontong tunggu, tunggu saja nanti semua masuk jaring lalu tariklah seper…

Puisi: Penyerahan (Karya M. Balfas)

Penyerahan Sudah, mulai hari ini Aku tidak 'kan main gesit-gesitan lagi, akan baik-baik menunggu kau dalam rumah, semua sudah kusiapkan…

Puisi: Jemu (Karya M. Balfas)

Jemu Tuan bersabda: Tenanglah! Sedang jiwaku Tuan landa. Tuan menitah: Sujudlah! Sedang jiwa tak mau patah. Tuan berta…

Puisi: Sekali Sebulan (Karya M. Balfas)

Sekali Sebulan Sekali sebelum kami terjaga bertanya bagaimana bulan bisa besar di kaca di negeri tiada cinta dan gairah sudah bany…

Puisi: Untuk Ibu-Bapakku (Karya M. Balfas)

Untuk Ibu-Bapakku Asap lesu peluit kecil masih ada di atas biru tiap kali hati berpaling dari ombak sudah jauh. Kalau kapalk…

Puisi: Jangan Kau Tanya (Karya M. Balfas)

Jangan Kau Tanya Aku minta jangan kau tanya apa yang telah terjadi di suatu malam gembira, bulan yang berangkat besar pada kaca …

Puisi: Buat Album Anak (Karya M. Balfas)

Buat Album Anak Aku tidak tahu Apa masih ada juga tempat bagi kau Pat. Manusia-kapur dan batu Ah, semua jadi pucat. Kau yang mau mengem…

Puisi: Anak Pasar (Karya M. Balfas)

Anak Pasar Gang sudah tersumbat: mau terus mesti meloncat dari manusia berbondong-bondong. Rebut cepat, karcis kelas empat, kalau mau non…

Puisi: Minta Didengar! (Karya M. Balfas)

Minta Didengar! Coba dengar: Kapan akhirnya kita semua tergulung juga seperti benang dalam satu kelosan, atau dalam satu kebulatan sepert…

Puisi: Pesta Kelasi (Karya M. Balfas)

Pesta Kelasi Kabut lalu berhenti di muka laut. Mendung ini mengandung bius! Aku lari dari gunung jauh mau berlayar tidak jadi sebab o…
© Sepenuhnya. All rights reserved.