Puisi: Matilah Kau Bulan (Karya T. Mulya Lubis) Matilah Kau Bulan Barangkali sepi telah sampai di langit. Bersimpuh membelakangi bumi — menghadap bulan : matilah kau bulan T'lah mampus bumi Lec…
Puisi: Kepada A (Karya T. Mulya Lubis) Kepada A (1) ketika kubuka bajumu dosa tersangkut di tengkorak nafasku satu-satu berahi yang rindu terjatuh ke sepatu sebuah puisi larut jadi batu se…
Puisi: Jam-Jam Gelisah (Karya T. Mulya Lubis) Jam-Jam Gelisah langit yang murung bagai ibu tua mau menangis sementara kokok ayam melangit kenapa lupa dan penuh senyap — jam sembilan pagi lalu bis…
Puisi: Suara (Karya T. Mulya Lubis) Suara suara aneh terbaring di sisi tempat tidur. dan bersama itu tibalah lautan mimpi di atas cakrawala bantal yang tua di tempat tidur: kubur pertam…
Puisi: Renungan (Karya T. Mulya Lubis) Renungan (1) Kubaca juga buku itu sembari menyisir rambut yang sudah beruban. Detik jam, suara beca dan asap obat nyamuk menyentuh bukuku. Dan mengge…
Puisi: Sepi (Karya T. Mulya Lubis) Sepi sepi menutup pintu sepi membuka sepatu sepi tergeletak bisu di ranjang (dan kalau ada perempuan) sepi akan membuka bajunya telanjang sepi adalah…
Puisi: Ranjang (Karya T. Mulya Lubis) Ranjang Sebuah dermaga di mana rindu dilabuhkan Sesudah itu perahu berlayar beberapa bulan Sumber: Basis (Juni, 1971) Analisis Puisi : Puisi "R…
Puisi: Suatu Saat Sejarah (Karya T. Mulya Lubis) Suatu Saat Sejarah sekarang terdampar kita ombak memecah di pintu kamar: sekumpulan puisi mencair diri dan kembalilah diri berjabat s…
Puisi: Saat Terakhir Seorang Penjudi (Karya T. Mulya Lubis) Saat Terakhir Seorang Penjudi Tuhan, kubawa kartu ini padamu. Trimalah Dunia yang guram menitipnya padaku Tuhan, dunia telah guram anak-anak berjudi …
Puisi: Di Atas Palka (Karya T. Mulya Lubis) Di Atas Palka gagak hitam dalam kelam sepi — merayap dari kamar kelasi pergilah jangan ganggu aku di sini laut tak bertepi di atas palka — atau penj…
Puisi: Pertama, Kedua, Ketiga (Karya T. Mulya Lubis) Pertama, Kedua, Ketiga sepi itu ada tiga dinding perut bunda adalah yang pertama sembilan bulan kumencintainya sepi yang kedua itulah dunia bersama i…