Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi W.S. Rendra

Puisi: Aminah (Karya W.S. Rendra)

Aminah Adalah perempuan jalan di pematang ketika jatuh senjakala. Sawah muda, angin muda tapi langkahnya sangat gontainya. Sebentar na…

Puisi: Pesan Pencopet kepada Pacarnya (Karya W.S. Rendra)

Pesan Pencopet kepada Pacarnya Sitti, kini aku makin ngerti keadaanmu. Tak'kan lagi aku membujukmu untuk nikah padaku dan lari dari …

Puisi: Sajak Sebatang Lisong (Karya W.S. Rendra)

Sajak Sebatang Lisong Menghisap sebatang lisong, melihat Indonesia Raya, Mendengar 130 juta rakyat, dan di langit dua tiga…

Puisi: Jangan Takut, Ibu! (Karya W.S. Rendra)

Jangan Takut, Ibu! Matahari musti terbit. Matahari musti terbenam. Melewati hari-hari yang fana Ada kanker payudara, ada encok, dan…

Puisi: Ia Telah Pergi (Karya W.S. Rendra)

Ia Telah Pergi Ia telah pergi lewat jalannya kali Ia telah pergi searah dengan mentari. Semua lelaki ninggalkan ibu dan ia ma…

Puisi: Mata Hitam (Karya W.S. Rendra)

Mata Hitam Dua mata hitam adalah matahari yang biru dua mata hitam sangat kenal bahasa rindu. Rindu bukanlah milik perempuan melulu …

Puisi: Sajak Matahari (Karya W.S. Rendra)

Sajak Matahari Matahari bangkit dari sanubariku. Menyentuh permukaan samodra raya. Matahari keluar dari mulutku, menjadi pelangi …

Puisi: Terbunuhnya Atmo Karpo (Karya W.S. Rendra)

Terbunuhnya Atmo Karpo Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para men…

Puisi: Nyanyian Angsa (Karya W.S. Rendra)

Nyanyian Angsa Majikan rumah pelacuran berkata padanya: "Sudah dua minggu kamu berbaring. Sakitmu makin menjadi. Kamu tak lagi hasilk…
© Sepenuhnya. All rights reserved.