Postingan

Puisi: Muharram di Titik Utopia (Karya Away Enawar)

Muharram di Titik Utopia Hadir menghempas udara panas. Watak dan tubuh beringas meranggas melecut rasa tak kuasa tinggalkan bencana dalam tahta. Pana…

Puisi: Mencabik Cakrawala (Karya Rodliyah Khusnun Nikmah)

Mencabik Cakrawala Gemerlap lentera berjejer indah Menyingkap semua yang bertakhta Penuh tipu daya, fatamorgana Berselimut mimpi tanpa rasa Akankah T…

Puisi: Napasku Masih Muda (Karya Alfi Durrotul Laily)

Napasku Masih Muda Fajar baru saja terbit Aku menatap seperti rumput ditepian sungai Seperti matahari menjelang siang yang semakin kuat Kutahu nyawak…

Puisi: Opera Simpang Jalan (Karya Eko Tunas)

Opera Simpang Jalan Tanah airku tanah tumpah darahku Dan kami menyanyi juga, tegak di simpang jalan Simpang timur barat simpang utara Selatan simpang…

Puisi: Jari-Jari Bumi (Karya Mario F. Lawi)

Jari-Jari Bumi Belajar menggelinding ke pangkuan malam  Sambil menyeduh airmata hari yang sakral,  Tubuh tua kami tak akan lagi mampu bertahan.  Tang…

Puisi: Doa dan Harapku (Karya Nur Wachid)

Doa dan Harapku Fajar pagi tampak layuh Sinarnya tak tampak Jangan kau melihat itu Bagiku itu palsu 'Ku hanya ingin semangatmu Bukan ingin egomu …

Puisi: Sekantong Luka dari Seorang Ibu (Karya Irianto Ibrahim)

Sekantong Luka dari Seorang Ibu : kepada ibu ainun kasim supaya dapat kau ceritakan pada mereka perihal dada yang terhimpit ini: dada seorang ibu yan…

Puisi: Demi Pendidikan Anak-anakku (Karya La ode Balawa)

Demi Pendidikan Anak-anakku Demi pendidikan anak-anakku relakan aku pergi merantau melintasi tujuh pulau tujuh selat tujuh samudra demi pendidikan an…

Puisi: Menatap Masa Depan (Karya Ama Gusti Azis)

Menatap Masa Depan Melangkah demi satu langkah Derap langkah kaki selalu menjelajah Pikiran dan hati kadang tergoyah Tapi mimpi berkata jangan menyer…
© Sepenuhnya. All rights reserved.