Postingan

Puisi: Aku Kota Sunyi (Karya Ulfatin Ch.)

Aku Kota Sunyi Karena dilahirkan sebagai perempuan aku memilih sendiri dan mencangkul kota sunyi para nabi. Rumah tanpa pintu yang berlumut malam men…

Puisi: Catatan Kecil Reformasi (Karya Ulfatin Ch.)

Catatan Kecil Reformasi ( 1 ) Jalanan sepi. Angin pun mlengos terbentur batu-batu. Kami berjalan berpapasan kereta manusia yang pulang dan pergi, men…

Puisi: Aku Mendaki (Karya Ulfatin Ch.)

Aku Mendaki Aku mendaki tak sampai-sampai seperti ketam merangkak tak sampai pantai. Di jendela yang terlihat cuma angin tak seperti bayangku pada pe…

Puisi: Di Rumah Kerang (Karya Ulfatin Ch.)

Di Rumah Kerang -Mathori Sedang apa kau. Mencari apa diam di rumah kerang berlutut dan bertasbih malam Pergi. Cambuklah puisi sekalipun dalam kolam y…

Puisi: Hujan Menjelang Subuh (Karya Tjahjono Widarmanto)

Hujan Menjelang Subuh malam berkemas di balik rintik hujan : aku ingin pulas di pangkuanmu! air mataku merintih pelan merata…

Puisi: Hujan Saat Kematian Menjemput (Karya Tjahjono Widarmanto)

Hujan Saat Kematian Menjemput tuliskan puisi terakhirmu . Aku paham ia akan menutup mataku dengan secarik kain warna kuning lalu angin jad…

Puisi: Kasihmu, Ibu (Karya Tjahjono Widarmanto)

Kasihmu, Ibu kasihmu ibu, tak akan bisa kubayar sekalipun kupetik seribu matahari sebab kasihmu adalah samudera abadi gelombang air…

Puisi: Nyanyian Alamanda (Karya Ulfatin Ch.)

Nyanyian Alamanda Alamanda di taman menjuntai. Kami menyaksikan dari jendela di balik korden terlepas. Tak ada cahaya seperi kilat hujan saat itu. Ka…

Puisi: Ziarah Rindu (Karya Ulfatin Ch.)

Ziarah Rindu Di tanahmu, ibu. Aku pulang membuka catatan lama tentang rindu dan harapan Di tanahmu, ibu. Hujan kupatahkan agar derainya tak berujung …
© Sepenuhnya. All rights reserved.