Postingan

Puisi: Semu (Karya Nirwan Dewanto)

Semu Puisiku hijau seperti kulit limau Kupaslah, kupaslah dengan tangan yang lelah temukan daging kata bulat sempurna, merah jingga …

Puisi: Aku Mendengarmu (Karya Hendro Siswanggono)

Aku Mendengarmu Aku mendengarmu saat kau diam Aku melihatmu saat kau tak menampakkan diri Aku merabamu saat engkau sejauh tak ada Aku membaui aromamu…

Puisi: Bubu (Karya Nirwan Dewanto)

Bubu Sirip, sayap, dan tangan tak pernah tersesat ke hulu. Paru-paru, mata, dan insang adalah buah hati batu. Duri, sisik, dan bayang-ba…

Puisi: Nyi Marsih (Karya Adi Sidharta)

Nyi Marsih Kepada penari senen Saban malam Nyi Marsih mesti menari hati sepi jiwa hampa. Nyi Marsih datang dari desa rumah tinggal abu suami entah di…

Puisi: Jalan Terus (Karya Adi Sidharta)

Jalan Terus kata Suurhoff : bung, jangan main-main politik siapa berpolitik dia komunis siapa komunis dia pengacau bandit, perampok bajingan tengik. …

Puisi: Kenangan untuk Si Dia (Karya Kurniawan Junaedhie)

Kenangan untuk Si Dia Dia tidak pergi ia kembali, menyisir rambut di depan cermin melihat bayang- bayang nya sendiri Saat itu jen…

Puisi: Tuhan, Bentangkan Langit (Karya Mh. Rustandi Kartakusuma)

Tuhan, Bentangkan Langit Tuhan, Bentangkan langit di atasku Jernih! Bangkit badanku ke negara-Mu, Tempat Engkau termenung Melihat aku dalam baju ini.…

Puisi: Jakarta (Karya Husni Djamaluddin)

Jakarta jakarta adalah bis kota yang berjubel penumpangnya bergerak antara kemacetan jalan raya dan terobosan-terobosan tak terduga jakarta adalah bo…

Puisi: Mencari Yang (Karya Husni Djamaluddin)

Mencari Yang telah kering segala mata air di gunung-gunung hulu diserap sungai-sungai yang mengalir berliku-liku telah kering segala sungai di muka b…
© Sepenuhnya. All rights reserved.