Puisi: Semangkuk Kecil Nasi Sehari (Karya Bung Karno) Semangkuk Kecil Nasi Sehari Kita negara-negara berpolitik bebas di dunia yang mengakui dan menerima kenyataan adanya bangsa-bangsa yang baru bangkit …
Puisi: Sehabis Menari (Karya Isbedy Stiawan ZS) Sehabis Menari sehabis menari perempuanku menggaris langit jadi padang baru. demikianlah! aku pun ingin terus menari bersamamu dan di pada…
Puisi: Minum Seni dan Kultur (Karya Bung Karno) Minum Seni dan Kultur Kita bergerak karena kesengsaraan kita Kita bergerak karena ingin hidup yang lebih layak dan sempurna Kita bergerak tidak karen…
Puisi: Guru Belia yang Tertidur di Buku Sejarah (Karya Acep Syahril) Guru Belia yang Tertidur di Buku Sejarah Guru-guru belia itu hidup dan tertidur di buku-buku sejarah bangsa lain yang kadang bermimpi dan mabuk …
Puisi: Sebuah Menara (Karya Dorothea Rosa Herliany) Sebuah Menara kita saksikan: arak-arakan para pengungsi dan keledai-keledai tanpa beban . mereka kibarkan selembar bendera. harapan berserakan di ant…
Puisi: Menggerakkan Tenaganya (Karya Bung Karno) Menggerakkan Tenaganya Diberi hak-hak atau tidak diberi hak Diberi pegangan atau tidak diberi pegangan Diberi penguat atau tidak diberi penguat Tiap-…
Puisi: Di Tepi Tamblingan (Karya Wayan Jengki Sunarta) Di Tepi Tamblingan setelah halimun parasmu pupus di pias danau bara pada unggun kayu masih sisakan birahi semalam namun can…
Puisi: Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta (Karya W.S. Rendra) Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta Pelacur-pelacur kota Jakarta dari kelas tinggi dan kelas rendah telah diganyang telah diharu-biru. …
Puisi: Kudengar Sunyi (Karya Yudhistira A.N.M. Massardi) Kudengar Sunyi Kudengar sunyi meneteskan air mata di atas bantal, memohon agar daun jendela dibukakan, kegelapan ditidurkan di depan tungku, menyalak…