Postingan

Puisi: Kepada Anakku (Karya Nersalya Renata)

Kepada Anakku aku mencintaimu jauh sebelum namamu kutemukan telah kupilihkan ayah terbaik untukmu ayah yang membuat matamu berbinar se…

Puisi: Maafkan Saja, Maafkan (Karya Adri Darmadji Woko)

Maafkan Saja, Maafkan Maafkan saja, maafkan o, adinda Kalaulah pada suatu saat aku melupaknmu pada pembicaraan dengan teman baruku. Maafkan saja, maa…

Puisi: Emak (Karya Sulaiman Juned)

Emak (I) (ziarahi makammu) Nafas yang berhembus di jiwa-memanjangkan akal kehidupan adalah dari keberadaa…

Puisi: Seseorang Menulis tentang Kematian (Karya Agit Yogi Subandi)

Seseorang Menulis tentang Kematian Lalu ia mengartikannya sebagai "kebebasan dari memori dan harapan". Seperti kotak hitam yang tidak la…

Puisi: Tak Cukup Kata (Karya D. Kemalawati)

Tak Cukup Kata Karena kata tak pernah cukup menerjemahkan cintaku padamu maka maafkan aku bila tak pernah …

Puisi: Episode Sebuah Serial Pop (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Episode Sebuah Serial Pop Aku bahasakan cinta dengan susu terbuka gaun terlalu pendek - dan robek bagian muka dan pandangan memanggil yang m…

Puisi: Bila Kabut Berserakan (Karya A.A. Navis)

Bila Kabut Berserakan Akhirnya berserakan juga kabut yang menyungkup yang bertumpuk tertahan di ujung gunung berserakkan dihembus angin balau itu. Da…

Puisi: Mars ke Sosialisme (Karya Adi Sidharta)

Mars ke Sosialisme Kami manusia kini najis dan koyak di kutuk sejarah. Zaman budak, zaman feodal dan zaman penghisapan kapital yang ingin 'ngubur…

Puisi: Dengan Rebab (Karya A.A. Navis)

Dengan Rebab (kepada seniman pura-pura) Dalam gegap gempita hari pasar kau gesek tali tegar rebabmu mendayu menusuk segala pikuk kau jelajah sampai y…
© Sepenuhnya. All rights reserved.