Postingan

Puisi: Laut Air Mata (Karya Weni Suryandari)

Laut Air Mata Yang aku tahu, udara berlubang kematian sembunyi di balik karang di bawah bulan keperakan pohon trembesi pucat pasi, bau mayat di tele…

Puisi: Indonesia, dalam Denyut Nafasku (Karya Mahdi Idris)

Indonesia, dalam Denyut Nafasku Sang proklamator yang telah pergi, suaranya yang menggema itu adalah ruh yang bersemayam dalam denyu…

Puisi: Pengorbanan (Karya Mahdi Idris)

Pengorbanan Tuhan, ambillah yang Kau mau aku sedia merontokkan bulu dan belulangku, aku sahaya tanpa maqam di hadapan-Mu. Jika Kau mau, …

Puisi: Seolah Matamu (Karya Abdul Latiff Mohidin)

Seolah Matamu matamu merenung ke dalam kamar kami yang gelap meninggalkan kesan abadi kemerlapan bintang remukan bulan di mulut cangkir kami pun jadi…

Puisi: Talqin (Karya Abrar Yusra)

Talqin         Makhluk ganjil masa depan itu terkapar sekarat mengerami samar kilau fatamorgana ruang batinku yang hangus di gurun, disesah panas ber…

Puisi: Pemulung Sore (Karya Ook Nugroho)

Pemulung Sore Sengaja kususuri sore Di trotoar kutemukan Sayup sisa makian siang Kata-kata berceceran Lepas dari sumber kisahnya Ada yang tak utuh la…

Puisi: Mudik (Karya Ook Nugroho)

Mudik ( 1 ) Jika kata-kata ini dibolehkan mudik Ke mana kiranya mereka bakal mudik? Kukira mereka akan kembali Ke mula bahasa, ke pangkal bunyi Pulan…

Puisi: Nokturno (Karya Muhammad Haji Salleh)

Nokturno malam ini kita punya laut dan langit untuk menolong kita hidup. angin yang datang dari belakang memujuk kita mencoba keluasan di depan, meny…

Puisi: Kalender Ruang (Karya Sides Sudyarto D. S.)

Kalender Ruang Helai demi helai kalender jatuh Lepas dari dinding waktu Hari demi hari nyawa lepas dari dinding raga Tak lagi nomor untuk bilangan Ta…
© Sepenuhnya. All rights reserved.