Postingan

Puisi: Di Ruang Ini yang Bernafas Cuma Aku (Karya Wiji Thukul)

Di Ruang Ini yang Bernafas Cuma Aku Di ruang ini yang bernafas cuma aku cecak dan serangga Air menetes rutin dari kran ke bak mandi …

Puisi: Hujan (Karya Wiji Thukul)

Hujan mendung hitam tebal masukkan itu jemuran dan bantal-bantal periksa lagi genting-genting barangkali bocornya pindah udara gerah ruangan gelap li…

Puisi: Tanah (Karya Wiji Thukul)

Tanah tanah mestinya dibagi-bagi jika cuma segelintir orang yang menguasai bagaimana hari esok kamu tani tanah mestinya ditanami sebab hidup tidak ha…

Puisi: Lagu Persetubuhan (Karya Wiji Thukul)

Lagu Persetubuhan kalau angka aku pun angka tak genap : tapi satu mana lengkap tanpa yang pecah maka aku pun rela jadi sepersekian dari keutuhan-Mu s…

Puisi: Busuk (Karya Wiji Thukul)

Busuk derita sudah matang, bung bahkan busuk : tetap ditelan? 17 November 1996 Sumber:  Aku Ingin Jadi Peluru (2000) Analisis Puisi : Puisi "Bus…

Puisi: Memburu Matahari (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Memburu Matahari matahari melintas di gigir senja hanya sampai di batas pantai ini kau tentukan langkahku hingga tebing waktu yan…

Puisi: Batu Nisan (Karya Sitor Situmorang)

Batu Nisan Di sini tempat berkubur segala keinginan hati yang menyala cinta terlena kedinginan bila aku juga…

Puisi: Kemerdekaan Saya Bandingkan dengan Perkawinan (Karya Bung Karno)

Kemerdekaan Saya Bandingkan dengan Perkawinan Kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan ada yang berani kawin, lekas berani kawin ada yang takut …

Puisi: Langkah-Langkah Siapakah Itu (Karya Hijaz Yamani)

Langkah-Langkah Siapakah Itu Langkah-langkah siapakah itu menapak di dingin malam Langkah-langkah siapakah itu menyerahkan miliknya di tangan bayang-…
© Sepenuhnya. All rights reserved.