Postingan

Puisi: Di Bukit (Karya Adri Darmadji Woko)

Di Bukit Aku ingin berlari perbukitan itu, merayap antara gerum- bul, menemukan dirimu mereguk air danau. Lamat-lamat pepohonan itu bergerak dan asap…

Puisi: Penunggu Kuburan (Karya Surachman R.M.)

Penunggu Kuburan akar beringin buruan pungguk janggut embah gardu bambu naungan malam ke malam biar datang siapa suka padanya ladang bangka…

Puisi: Cukuplah Asmara (Karya Fitri Yani)

Cukuplah Asmara bila bahumu matahari pukul delapan pagi pinggangku rumah berkabut di pinggir hutan bila dadamu badai laut cina selatan t…

Puisi: Lelaki Jalan (Karya Iyut Fitra)

Lelaki Jalan Ke jalan, anakku. Lelakilah yang mengukur simpang-simpang dalam bola kabut. Atau neraka yang terpancar dari kerusuhan teruskan s…

Puisi: Sang Waktu (Karya Sujarwanto)

Sang Waktu Di depan kita ada dia, tapak-tapak yang melangkah Di samping kita ada dia, detik-detik yang mendesah Di belakang kita ada …

Puisi: Boneka (Karya Iyut Fitra)

Boneka Pada matanya yang berdebu kulihat seorang lelaki menuju malam. langkahnya seperti pertempuran yang kalah. di pundaknya cuaca terus men…

Puisi: Rumah Matahari (Karya Fitri Yani)

Rumah Matahari mengapa begitu asing rumah padahal telah kugantung lukisan matahari di ruang tamu agar kau selalu menatap harapan yang meny…

Puisi: Menyesal (Karya A. Munandar)

Menyesal Kita menghancurkan hanya untuk mengatakan kita menyesal. Kita menghilangkan hanya untuk mengatakan kit…

Puisi: Sajak Senja (Karya Iyut Fitra)

Sajak Senja Kumasuki lembah itu. cuaca tak lagi berteguran senja adalah perpisahan paling gawat kita saling berpinjam waktu. dalam tahun-tahu…
© Sepenuhnya. All rights reserved.