Postingan

Puisi: Di Sebuah Pagi (Karya Nezar Patria)

Di Sebuah Pagi Ilalang kering di tungku itu mendamba letikan api, ia menunggu, Seperti malam menunggu matahari datang dengan gunting rumput, lalu mem…

Puisi: Cinta Seribu Musim (Karya Weni Suryandari)

Cinta Seribu Musim Ada yang lebih puitis selain purnama semalam Hujan yang manis, kabarkan tentang degup api Di dada putih, angin berhembus tertatih-…

Puisi: Hujan Abu Gunung Kelud di Yogya (Karya Abdul Wachid B. S.)

Hujan Abu Gunung Kelud di Yogya di pagi ini seperti malam meleleh abu di daun-daun di rerumputan, di jalan-…

Puisi: Rumah Cahaya (Karya Abdul Wachid B. S.)

Rumah Cahaya kesendirian rumah cahaya inilah yang bangkit mendekap manusiaku yang selalu pergi di dalamnya …

Puisi: Membaca (Karya Mahdi Idris)

Membaca Aku membaca Nama-Mu di awan kau melukis diri dengan lafaz yang kutahu aku belajar membaca dari kalimat nama-Mu. Jika engkau su…

Puisi: Emak (Karya Sulaiman Juned)

Emak (I) (ziarahi makammu) Nafas yang berhembus di jiwa-memanjangkan akal kehidupan adalah dari keberadaa…

Puisi: Setia (Karya Aspar Paturusi)

Setia kuikuti setiap langkah kakimu kucoba dengar hembusan napasmu kuingin tahu ke arah mana tatapanmu selembut apa kata da…

Puisi: Orang Gila Baru (Karya Joko Pinurbo)

Orang Gila Baru Sesungguhnya saya malas membaca sajak-sajak saya sendiri. Setiap saya membaca sajak yang saya…

Puisi: Selalu Ada Sajian (Karya Leon Agusta)

Selalu Ada Sajian Selalu ada sajian buat mata. Siaran bencana di televisi, tipu daya murahan iklan kosmetik,  tauran remaja, pertika…
© Sepenuhnya. All rights reserved.