Postingan

Puisi: Upacara Lingga (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Upacara Lingga bulan menjerit lirih gumpalan awan pecah di lingkar lingga membasuh rumah siput yang lunak dan basah irama suci datan…

Puisi: Pasrah (Karya A. Munandar)

Pasrah Sekali ini, biarkan aku meleleh di bibirmu, bersembunyi di matamu, berlutut di perasaanmu. 2017 Analisis Puisi : Puisi “Pasrah” karya A. Muna…

Puisi: Di Serambi Masjid Tua (Karya Gunoto Saparie)

Di Serambi Masjid Tua di serambi masjid tua menjelang isya aku pun belajar mengeja aksara gemetar menyebut alif ba ta lampu petromaks redup …

Puisi: Begitukah Masa Lalu Itu? (Karya A. Munandar)

Begitukah Masa Lalu Itu? Suara-suara buta berserah tak berterima membalut keseimbangan menyeret kesenjangan Hampir aku membesi samp…

Puisi: Kau, Aku, Kita (Karya A. Munandar)

Kau, Aku, Kita Kau adalah kau aku adalah aku yang sesekali menjadi kita. 23 September 2026 Analisis Puisi: Puisi “Kau, Aku, Kita” karya A. Munandar b…

Puisi: Sekadar Tambalan Bukan Hanya Pulih (Karya Raudhatul Zannah)

Sekadar Tambalan Bukan Hanya Pulih Pantulan cermin kini kembali membayang, akan sosok yang dulu menangis dalam diam, di antara gejolak rindu yang tak…

Puisi: Jeritan Jiwa di Hadapan Sang Maha (Karya Silvester Rudin)

Jeritan Jiwa di Hadapan Sang Maha Tatkala hasrat membara, hati pun melangkah tanpa tahu arah, tingkah menjadi hina, laku bebas hingga kehilangan bata…

Puisi: Sekejap Saja (Karya A. Munandar)

Sekejap Saja Sekejap saja sebelum hujan menghapus kisah-kisah kita Sekejap saja sebelum tahun menar…

Puisi: Lima Cawan Madu Getir (Karya Ikasari Mayar)

Lima Cawan Madu Getir Mestinya gestasi kedua nyanyian riang. Tapi hidup bermain curang. Ia menukar undangan pesta dengan undangan perang. Mahligai me…
© Sepenuhnya. All rights reserved.