Anak Baghdad yang Mencari
Saudara Lelakinya

Awan hitam mengapung di udara malam
kota awal mula peradaban
taman dan jalanan tempat berlarian
makin hari penuh lubang
gerincing rebana dan deru pesawat
apa bedanya ya bapa
seru tangis dan raung sirine
apa bedanya ya bapa
setiap fajar bangkit
debu Baghdad mengapung di sungai Eufrate
setumpuk garis berlapis-lapis
hanyut perlahan di sungai Tigris
mimpiku tentang Karbala dan Basra
telah terhapus angka-angka
semua pun berlangsung semua pun berkabung
tapi aku harus gantikan kakak lelakiku
karna tanah ini denyut jantungku


Masih adakah yang tersisa
di antara puing Amriya
kulihat hanya tulang yang kenangan
langit pun keriput wahai


Karna hujan telah habis jadi tangis
karna suara begitu galau muncul dan hilang
seharusnya kau tak pergi
selama bapa ke selatan belum kembali
masih adakah yang tersisa
di antara puing Amriya
kulihat hanya darah yang mosaik
menjadi simbol-simbol keangkuhan perang
seharusnya kau bersamaku hari ini
menyusuri lorong-lorong tua
mengumpul warta bagi yang tua
sambil melompat-lompat di celah reruntuhan gedung
membiarkan otak kita penuh fatamorgana
tentang kota raya bermahkota
kaukah itu di antara kerumun pengungsi
bayangmu pun tak kukenali.

Jakarta
Februari, 1991
"Puisi: Anak Baghdad yang Mencari (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Anak Baghdad yang Mencari
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top