Bisnis

header ads

Puisi: Padang Kaduwang (Karya D. Zawawi Imron)

Padang Kaduwang

Dua utas dodot sutera
diikat kuat tak mungkin lepas
pertanda sehidup semati
gusti dengan kawula.

Gemuruh bunyi senjata
Pukul-memukul tangkis-menangkis
padang Kaduwang adalah padang orang-orang gila
Sorai topan di laut
mengamuk batu-karang
Mata-hati merah kesumba
melihat mayat bertumpang tindih.

Alangkah deras darah
yang mengalir dari jantung-jantung menyala
Segar dada dan segar langkah Pangeran Lor.

Hai, orang seberang,
Jangan hanya mengadu rakyat!
  raja dan menteri jadi penonton
Keris dan tombak di dalam perang
bukan semata barang hiasan.

Ubun jengkerik telah disengat kembang rumput
Gusti Pemecut turun ke gelanggang
baling-baling tombak jadi perisai
Majulah Pangeran Lor
Segagah Brawijaya, setenang Puteri Kamboja
Dua jantan ayam sabungan
berkelebat bagai bayangan
bergilir tebas dengan tangkis.

Walau tombak musuh menembus lambung
Langeran Lor tidak terhuyung
Macan yang lapar
garang dan lahap
dan sempatlah
keris pusaka berpamur janur setangkai
bersinggah di dada musuh.

Maut tanpa suara
Burung gagak terbang ke arah utara
Mengaduh tanah Braji,
Hai, perempuan-perempuan di atas bukit!
      Kabar amis bagimu
      Sediakan daun widara
      dan rautlah kayu cendana!

Dodot: ikat pinggang
"Puisi: Padang Kaduwang (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Padang Kaduwang
Karya: D. Zawawi Imron

Posting Komentar

0 Komentar