loading...

Catatan tentang Rumah Tua

Di terasnya tak seorang merasa terjajah
atau menjajah karena seni tak untuk saling jajah
di terasnya tak hati beringas atau telengas
karena seni tak untuk saling kepras
ketika kemarau pun atau tengah hujan badai
rumpun anggrek sedang tak berbunga dan
kembang bakung hanya umbinya sementara rumput
halus mengering oleh panas Agustus
tapi kutemukan anggrek dan bakung bermekaran
di kebun hati penghuninya
kutemukan hijau rumputnya di wajah-wajah mitra
sementara tangan-tangan mengulurkan jabat hati
bincang siang meneduhkan matahari
bincang malam sembuhkan radang oleh sikap tualang
kita tak harus kehilangan harum mawar dan melati
hanya karena manjakan ujung seringai mata belati
kita tak harus kehilangan harum mangga dan tanjung
hanya karena gugatan-gugatan yang manjakan tuntutan
tak sadar akan homo homoni lupus
ketika pedang menusuki punggung desa Muara Tua
dan darahnya tembus ke dada
rambatan panjang persaudaraan teranyam dari serat
ilalang yang dibawa Din Rayes
dari padang sabana tanah Sumbawa
sesungguhnya tak buat kita jera kerja dan
saling menyapa- primakah kau saudara
kita biarkan Tuhan tersenyum di Puncak Tangga
sementara pohon terus tumbuh dan berbunga
musim terus berganti hantarkan nyanyi di hati.

Tegal
Agustus, 1994
"Puisi: Catatan tentang Rumah Tua (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan tentang Rumah Tua
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top