loading...

Sajak Duka Perempuan Tua

Duka-duka hari ini duka perempuan tua
yang melekat jadi kemelut di sudut-sudut mata keriput
dan menguap bersama sebutir peluh dan sepotong harap
tentang warna yang lain
dari lembar-lembar mimpi perempuan tua
yang berjalan dari kota ke lain kota
mencari bayang remaja yang tak mungkin
kembali dalam rona merah jingga
sementara matahari semakin memijar di langit lepas
memijar di ubun-ubun berkerut keras
namun perempuan tua masih mencoba bicara
tentang masa lalu, nostalgia, dan seguci madu
oi, sambutlah tanganku yang ramping wahai penggemarku
di sini aku kan perankan lakon drama paling cantik
tentang segala kisah anak manusia
cinta kasih maupun durhaka
bibir perempuan tua pucat kehitaman
bagai sesayat buah bergetah dan alum
memekik menghantar nafas tak pernah puas
semanjak satu mahkota pernah bertengger di kepala
sebagai Primadona
tapi siapa mendengarnya
hari ini terlalu banyak bencana
yang menyita segenap rasa
dari pada sepotong drama perempuan tua.

Jakarta, 1978
"Puisi: Sajak Duka Perempuan Tua (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Duka Perempuan Tua
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top