Tamu

Suatu malam roh musafir itu singgah,
hendak menginap di tubuhku.
Tubuh yang sudah beberapa lama terbaring sakit
menggeliat terperanjat.
“Aku tidak siap menerima tamu,” ucapnya lirih.

“Tuan, saya kemalaman,” tamu itu berkata.
“Bolehkah hamba numpang tidur dan istirah sebentar?”
“Tentu saya senang bisa mempersilakan Tuan bermalam
di tubuh hamba,” jawabku. “Tapi maaf, hamba
tak bisa kasih tempat yang nyaman. Tubuh hamba
sedang bobrok dan berantakan.”
“Jangan terlalu meninggikan hamba,” timpalnya.
“Bisa sekedar berbaring saja sudah cukup
membuat bahagia.”

Di tubuh yang sumpek dan temaram
tamu itu merapal doa sepanjang malam.
Doanya mencengkeram meremas-remas jantung
sampai darahku bergolak dan tubuhku tersentak:
“Aku takut mati!”
Tapi doanya tambah deras dan dencar
sampai tubuhku gemetar dan urat-urat darahku bergetar.
Sesudah itu tubuhku hening
hingga tiap denyut darah terdengar nyaring.

Pagi-pagi sekali tamu itu pamitan,
hendak melanjutkan perjalanan.
“Tidur hamba nikmat sekali semalam,” ia berkata.
“Terima kasih,” jawabku. “Saya harap suatu saat
Tuan berkenan singgah lagi di tubuh hamba. Hamba berjanji
akan sediakan tempat yang lapang dan nyaman.”

Lama aku menunggunya. Tapi ia tak kunjung datang.

1999
"Puisi: Tamu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Tamu
Karya: Joko Pinurbo

Post a Comment

loading...
 
Top