Bisnis

header ads

Puisi: Pertemuan dengan Pak Dirman (Karya: D. Zawawi Imron)

Pertemuan dengan Pak Dirman

Langit di ubun Surabaya tak lagi menabur cahaya saat menjelang tengah malam kususuri urat nadinya 
Lampu-lampu merkuri telah mempersolek kotaku 
O, Surabayaku, alangkah cantiknya engkau molek bagai perempuan genit
Terus terang aku ingin mencintaimu dengan hati seorang santeri
Tapi, mungkinkah itu yang engkau mau
Lampu lampu kendaraan yang lewat sebentar sebentar menyorotku
menyilaukan mataku hampir pula menyilaukan hatiku sedang aku tidak berkawan selain Tuhan.

Di jantung kota 'ku temui sesosok tubuh kerempeng dan sederhana
ia hanya sebentuk patung
aku ingin sekali menegurnya andaikan ia bernyawa tapi tersenyum juga aku padanya
O Pak Dirman
Tubuhnya yang kurus tetap menyimpan keperwiraan
Sorot matanya yang lembut mengingatkan akan sajadah alam yang ia hamparkan saat gerilya.

Aku pun lewat di samping kanannya sesuai dengan aturan lalu lintas yang ada
Sepuluh meter setelah aku membelakanginya
tiba tiba terdengar suara "Penyair, kemarilah"

Aku celingukan ke kanan kiri tapi tak ada siapa siapa kecuali kendaran yang simpang siur tak mengenalku
Langkah pun kuayunkan kembali
Terdengar lagi suara "Anak, apa engkau tidak mendengar panggilanku?"
Aku menoleh ke belakang. Kulihat tangan patung itu melambai padaku.
Dengan denyut cinta bercampur takjub 'ku dekati patung itu
Amboi, jabat tangan kami erat sekali

"Pak Dirman, jabat tangan ini sungguhan atau hanya sebuah mimpi?"

"Sungguh atau mimpi itu tidak penting, anakku.
Yang paling penting pertemuan kita ini mengandung arti 
Perlu kau tahu, Ada mimpi yang benar benar sungguh dan ada kesungguhan yang cuma mimpi."

Aku diam dan mencoba mengunyah kata katanya. Belum mapan ucapan itu dalam pengertianku ia melanjutkan "Aku merasa kesepian, anakku."
"Aku ingin omong omong denganmu seperti daun yang telah gugur bercakap dengan daun yang sedang semi"

"Sangatlah aneh kalau Bapak kesepian" 
"Bukankah banyak sekali orang yang lewat di sini baik pagi, siang maupun malam?"

"Ya, ya, tapi mereka banyak yang tak mengenalku lagi, apa lagi menyapaku dengan suara damai, seperti orang orang melambaiku pada zaman gerilya dulu. Aku kini terasing di tengah keramaian."
"Apakah itu yang tersirat dalam pepatah ,habis wangi bunga dicampakkan?"
"Tidak"
"Pepatah itu tidak kena untuk menggambarkan keadaanku" 
"Hendaknya kau tahu bahwa wangiku tak akan habis sampai hari kiamat nanti
Wangiku telah menjadi coklat tanahmu
Wangiku telah menjadi garam dalam lautmu
wangiku akan selalu dikicaukan burung burung di ranting rangting pohonan
Silakan saja engkau melupakannya 
Tapi tak kan bisa engkau menghapuskannya"

Dudukku lunglai bagai sebutir debu yang tak bernyawa  
Haru dan sesal menghablur dalam jiwa

"Anakku, 
Kalau engkau merasakan manis jantungku coba jawab pertanyaan ini: 
Untuk kemerdekaan negeri ini apa yang telah terjadi?
Saya tahu betul itu banyak mayat bergelimpangan 
Mereka gugur oleh berondongan peluru dan bom musuh
Menurut engkau bagaimanakah kematian mereka?"

"Sungguh kematian yang sangat indah."
"Karena mereka mati untuk sebuah cita cita yang sangat mulia
Yaitu biji dari cahaya yang pernah engkau pancarkan dengan getar darah dan nyawa."

"Ternyata engkau sangat pandai berteori dan berkesimpulan tentang cita cita dan cintaku
Itu bagus dan sangat bagus."
"Tapi mengapa kadang kini muncul keajaiban keajaiban; yang membuat katak katak tertawa. Semakin banyak orang pandai mengurai lembar lembar jejak, langkah dan senyumku, di lain pihak semakin banyak lagi orang orang yang tidak peduli pada desah lemah paru paruku."
"Kalau dulu aku mencurahkan keringat untuk kecemerlangan cahaya dan keharuman mawar, kini masih banyak lagi orang orang yang sibuk menari hanya untuk kutu busuk dan bangkai."

"Bapak, Kata katamu bagaikan pedang yang melukai hatiku."

"Syukurlah. Kalau hatimu merasa sakit oleh ucapanku. Itu pertanda engkau masih punya hati nurani. Kesakitan itu yang akan menjelma ksatria yang akan mengusir iblis dari hatimu,sehingga sosokmu utuh sebagai khalifah maupun sebagai hamba Allah."

Hening hatiku mengunyah dan terus mengunyah

"O, ya, sejak awal pertemuan ini aku melihat bayang bayang kesedihan di balik sorot matamu. Tolong ceritakan peristiwa apa yang membuat hatimu pilu?"

Aku hanya diam tak berhasrat untuk menjawab

"Mengapa engkau tak menjawab?"
"Ayolah jawab!"

"Tidak!"
"Saya takut untuk mengatakan dan saya tak mau mengatakan."

"Mengapa, anakku?"

"Kalau engkau masih mampu menatap bumi, menatap langit dan matahari
Katakan saja. Apa engkau masih meragukan hatiku?"
"Mari kita berbagi rasa, berbagi duka."

"Bapak, seorang saudaraku telah mati dengan cara yang mengerikan. 
Ia dibunuh dan mayatnya dibuang ke hutan."

"Mengapa ia dibunuh?"

"Saya tidak tahu." 
"Tapi ia terbunuh setelah memperjuangkan nasib para buruh."

"Siapa namanya?"

"Namanya, Marsinah"

"Ya Allah, 
Mata Pak Dirman yang tadi menyala itu tiba tiba meneteskan airmata."


"Puisi: Pertemuan dengan Pak Dirman (Karya: D. Zawawi Imron)"
Puisi: Pertemuan dengan Pak Dirman
Karya: D. Zawawi Imron

Posting Komentar

0 Komentar