loading...

Refrein Den Haag Sore
Seorang anak kecil
menyemburkan udara kabut
dari mulutnya yang mungil
ke arah seorang kakek.

Sang kakek membalasnya
dari bawah kumisnya yang tebal.

Kabut-kabut itu menyatu
di udara dingin
pusat kota Den Haag
Kabut itu tiba-tiba menjelma
seorang bidadari
yang menyanyi tentang cinta yang fitrah
tentang kesinambungan denyut darah.

Bahwa yang selain bunga pun harus mekar
tanpa menunggu musim panas yang segar.

"Puisi: Refrein Den Haag Sore (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Refrein Den Haag Sore
Karya: D. Zawawi Imron

Post a Comment

loading...
 
Top