loading...
Nenek Kebayan


Nenek Kebayan! Nenek yang tua!
matanya sumur kering tanpa kerinduan
terlupa kenangan lampau, disepikan
dan kejemuan ada pada yang datang.

Nenek Kebayan! Nenek yang tua!
mukanya berkerut adalah malam
tiada warna damba dan harapan
kecuali sepi tiada lagi dirasakannya.

Nenek Kebayan! Nenek yang tua!
menghitung butir-butir tasbih dengan separoh hati
bulan putih berlabuh di hatinya
angin kemarau menyatu pada napasnya.

Duhai! Hidup yang tinggal diisi tidur dan bubur
sudah itu sepi pada dada terbujur,
laba-laba di pojok kamarnya
bunga-bunga tidak lagi tertawa.

Nenek Kebayan! Nenek yang tua!
terdengar langkah gaib depan kamarnya
sudah terasa dilihatnya sabit dan orang hitam
terdengar ketukan di pintu - atau dadanya.
berkata ia dan senyuman sepi di mulut tanpa gigi:
"Masuklah, ya, Tuan, tamu budiman!"

Nenek Kebayan! Nenek yang tua!
sudah hilang esok harinya.
 
 
"Puisi: Nenek Kebayan"
Puisi: Nenek Kebayan
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top