Sajak Ketut Tua, Pemahat Dusun yang Frustrasi

Dia bernama Ketut
orang dusun panggil Ketut
Ketut tua sederhana
Ketut tua limbangan cinta.

Turunan ke tiga penghuni banjarnya
banjar tua dengan Ketut sama tua
banjar cinta dengan Ketut sama cinta
banjar setia dengan Ketut sama setia.

Sepanjang musim
ya sepanjang musim
Ketut memahat dengan rajin
bersahabat dengan miskin.

Ketut tua telah memahat umurnya
roh moyang titisan ilhamnya
matahari langit Bali adalah semangatnya
tapi tahukah Ketut berhati sederhana
kini seni tak miliknya sendiri.

Jaman angker kakek moyang lama lewat
seni Bali telah dijejal rapi di toko suvenir peni
dan siap sangkut pergi
pengagum berkocek tebal Manca-Negara.

Ketut malang perlahan langitnya bergoyang
mereka tak lagi mencarinya di kampung tersembunyi
Ketut sepi memahatlah hati nurani
Diramaikan hentak kaki para cucu main sendiri.

Ketut tua apa nian kau gumamkan?
Kebijaksanaan baru?
Ada itu disebut di koran-koran
tapi langka di keseharian 
Ketut tua termangu lama lama lama.

Kampung hijau geresek kayu tawa para cucu
tiba tiba mengental dalam bayang
tiba tiba mengental dalam genang
kali kecil dusun Bali di gigir pipi.

Jakarta
Juni, 1982
"Puisi: Sajak Ketut Tua, Pemahat Dusun yang Frustrasi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Ketut Tua, Pemahat Dusun yang Frustrasi
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top