loading...

Membaca Bahasa Gaduh

Berujar tak pada siapa
melepas malam menerka waktu
malam gaduh di kota-kota
kota gaduh di rumah-rumah
rumah gaduh di jiwa-jiwa
lalu terdengar suara tua
bicara tentang kesaksian akhir abad
terbayang tanah gersang berdarah di ujung belati
luka-luka memasir busuk di teluk-teluk

Jika penembang, tembangku gaduh
jika pendoa, doaku gaduh
jika perindu, rinduku gaduh
jika pemimpi, mimpiku gaduh
betap rindu hening yang bukan sepi
tak dikoyak raung mikrofon pagi
seseorang coba memaknai abad baru
lepas dari tafsir-tafsir sungsang
lepas dari hasrat-hasrat grangsang

Barangkali:
melati kembali putih bukan dalih
mawar kembali merah bukan darah
suwung jadi rumah dalih jadi sumpah
deras hujan basuh musim tak banjir
deras dzikir usap pikir tak pandi
deras dakur jaga syukur tak hancur
kalau saja tak lagi bahasa gaduh
berujar tak pada siapa.

Cimanggis
September, 2004
"Puisi: Membaca Bahasa Gaduh (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Bahasa Gaduh
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top