loading...
Kami Pergi Malam-malam


Malaikat penjagaku mengetuk jendela
dari sorga sehati dengan daku
berdua satu tempaan.

Kami sama-sama menuruni malam
bulan terpancang kedinginan.

Malam dibungkam kabut tipis
sepinya seperti topeng yang gaib.
Dan di sini terpancar suara-suara yang paling murni
keras dan tajam seperti dinginnya tiang listrik.

Dunia, sorga, neraka
semua bicara di sini.

Kami sama-sama menuruni malam
sampai di satu lorong dibungai perempuan.
Perempuan-perempuan susu layu dirapikan
mata kuyu dibinarkan pulasan.

Mereka kuda-kuda yang dihalau dari padang subur
menerjunkan diri ke rimba-rimba
yang makin menggila oleh kegelapan.

Mereka yang dikutuki wanita gereja
dipalingkan dari harapan surga.
Dosa apa pada mereka?
Hai, nyonya-nyonya, dosa apa?
mereka mendapat kehitaman itu
waktu dipingsankan mata mereka.

Kita mulyakan almarhum bunga bangsa
dan mereka bunga-bunga hitam yang masih ada nyawa
begitu rendahkah mereka
di bawah tulang-belulang bunga bangsa?

Mereka bicara dalam kuyu mata mereka
mereka bicara dalam dusta lemah mereka
tapi wanita-wanita terhormat tidak tahu
mereka dijauhi harapan surga
dan timbul nafsu lelaki.

Malaikat penjaga merangkul daku
kami berlutut dan berkata: Haleluya!
karena kami lihat Tuhan menciumi kening mereka
kuda-kuda yang dihalau dari padang subur.

 
 
"Puisi: Kami Pergi Malam-malam"
Puisi: Kami Pergi Malam-malam
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top