loading...

Sajak Gadis dan Majikan

Janganlah tuan seenaknya memelukku,
Ke mana arahnya, sudah cukup aku tahu.
Aku bukan ahli ilmu menduga,
tetapi jelas sudah 'ku tahu
pelukan ini apa artinya ...
Siallah pendidikan yang aku terima.
Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing,
kerapian, dan tatacara.
Tetapi lupa diajarkan:
bila dipeluk majikan dari belakang,
lalu sikapku bagaimana!
Janganlah tuan seenaknya memelukku.
Sedangkan pacarku tak berani selangsung itu.
Apakah tujuan tuan, sudah cukup aku tahu,
Ketika tuan siku tetekku,
sudah 'ku tahu apa artinya ...
Mereka ajarkan aku membenci dosa
tetapi lupa mereka ajarkan
bagaimana mencari kerja.
Mereka ajarkan aku gaya hidup
yang peralatannya tidak berasal dari lingkungan.
Diajarkan aku membutuhkan
peralatan yang dihasilkan para majikan,
dan dikuasai para majikan.
Alat-alat rias, mesin pendingin,
vitamin sintetis, tonikum,
segala macam soda, dan ijasah sekolah.
Pendidikan membuatku terikat
pada pasar mereka, pada modal mereka.
Dan kini setelah aku dewasa
ke mana lagi aku kan lari,
bila tidak ke dunia majikan?
Janganlah tuan seenaknya memelukku.
Aku bukan cendikiawan
tetapi aku cukup tahu
semua kerja di mejaku
akan ke sana arahnya.
Jangan tuan, jangan!
Jangan seenaknya memelukku.
Ah. Wah.
Uang yang tuan selipkan ke beha-ku
adalah ijasah pendidikanku.
Ah. Ya.
Dengan yakin tuan memelukku.
Perut tuan yang buncit
menekan perutku.
Mulut tuan yang buruk
mencium mulutku.
Sebagai suatu kewajaran
semuanya tuan lakukan.
Seluruh anggota masyarakat membantu tuan.
Mereka pegang kedua kakiku.
Mereka tarik pahaku mengangkang.
Sementara tuan naik ke atas tubuhku.
Yogya
10 Juli 1975
"Puisi Sajak Gadis dan Majikan (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Gadis dan Majikan
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top