Sancho Panza Mendiktekan Sepucuk Surat Buat Isterinya



Telah 'ku ikuti seorang
yang murung, Teresa,
ke dalam hutan panjang
sebelum Murcia: ia
yang menorehkan
pedangnya
ke pohon-pohon
di batas ngarai.

Aku tahu ia terbujuk
soneta yang sedih
dan kecewa
pada repetisi sungai.

Berhari-hari ia berjalan
seperti ksatria Amadis
menyimpan kesetiaan
dan serenade
yang 10 baris.

Seakan-akan ada
khayal dan kata
yang menghukumnya.

Tapi ia tak mengacuhkannya.

Tiap pagi ia lafalkan
nama seorang gadis
yang dikenalnya
dalam kaligrafi
di porselen yang berakhir pada X -
X yang tak diketahui,
atau X dari "Xin,"
X yang berarti ‘hati.’

Dan ia ucapkan itu, Teresa,
dengan jurang
di matanya.

"Sementara Maut orang Mur
mengejarnya
dari pantai,
hitam dan tajam,
seperti sabit tua,
meskipun ajal itu
pernah berkata,
'Surga telah melupakanmu, Don Quixote
neraka tak mengenalmu.'"

2007
"Puisi: Sancho Panza Mendiktekan Sepucuk Surat Buat Isterinya (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Sancho Panza Mendiktekan Sepucuk Surat Buat Isterinya
Karya: Goenawan Mohamad

Post a Comment

loading...
 
Top