loading...

Lelaki Mabuk dan Rembulan

I
Berapa laut telah kau teguk
tak juga sirna dahaga
berapa selat kau hisap hari ini
semakin haus, menyiksa jiwa yang bara
sebenarnya
tak raga yang bicara dan menuntut
tapi kerontang jiwa
yang hilang ruh kearifan
jadi belenggu abadi bagi diri.

Makin gering kemarau bulan Agustus
makin liar sulur-sulur hasrat purbamu
menarikan bias rembulan pesisirku
jangan usik biarkan semesta terus menari
biarkan kata-kata bernyanyi sendiri
lagu yang bukan lagumu
tapi tembang pesisiran 
yang kugubah sepanjang windu.

II
Kenapa kau biarkan kendali
dicuri matahari petang tadi.

Sementara sungai selat dan laut
kau biarkan mabuk langit
menolak pigura dan tepis sentuhmu
ketika orang-orang di lapangan
turunkan bendera menimang unggun
kau biarkan bumi memaku tubuhmu
kau mabuk debu mabuk batu
rembulan pun tak lagi menapa
meski kau puji warna emasnya.

Kenapa kau biarkan kendali
dicuri matahari petang tadi.


Jepara
Agustus, 2003
"Puisi: Lelaki Mabuk dan Rembulan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Lelaki Mabuk dan Rembulan
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top